Kegelisahan yang semakin besar atas tumbuhan global dan penyebaran virus Ebola menekan indeks saham di Asia kecuali indeks saham di Australia yang mencatatkan kenaikan tipis.

Setelah serangkaian data ekonomi Jerman dan China keluar memburuk belakangan ini, data ekonomi AS, Retail Sales dan Producer Price Index turun bulan lalu, sinyal yang mengkhawatirkan dan memicu aksi jual di Wall Street seiring pudarnya ekspektasi Federal Reserve akan menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan.

Data Empire State manufacturing Survey juga anjlok ke level 6.17 dari 27.54 di bulan September, menandakan laju terlemah aktifitas sektor manufaktur di negara bagian New York sejak bulan April.

Hasilnya, munculah rally safe haven pada obligasi Pemerintah AS (US Treasury) dan mendorong imbal hasil (yield) turun hingga 1.86%, terendah sejak Maret 2013. Rally juga meluas pada obligasi Pemerintah Jepang (JGB) dimana yield JGB bertenor 10 tahun turun menjadi 0.47%, terendah dalam 1.5 tahun.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0.23% atau 11.3 poin ke level 4951.6 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 juga turun 0.22% atau 1.9 poin ke level 837.3. Investor asing menarik IDR327.0 miliar keluar dari pasar saham domestik.

Indeks saham di Eropa turun setelah ketakutan mengenai kestabilan ekonomi Yunani kembali muncul. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Yunani naik hingga 8.9%. Indeks saham di Italia, Spanyol, Portugal dan Belgia sempat jauh 3% sebelum memperkecil penurunan.

Indeks saham utama di Wall Street naik tipis ditopang oleh Presiden Federal Reserve bank di St. Louis yang meluncurkan wacana kemungkinan perpanjangan program pembelian obligasi (Quantitative Easing) yang di jadwalkan berakhir akhir bulan ini.

Dari sisi ekonomi, data Initial Jobless Claims turun ke level terendah dalam lebih dari 14 tahun sementara Industrial Production naik 1% di bulan September. 

IHSG diprediksi akan bergerak mixed cenderung menguat pada perdagangan hari ini. Pasar Eropa ditutup turun, sementara pasar Amerika ditutup flat cenderung melemah. Sentimen investor masih dipengaruhi seputar kekhawatiran akan terjadinya perlambatan ekonomi global, deflasi, penyebaran virus Ebola, dan Yunani yang dikabarkan kembali membutuhkan bailout. Di samping itu, pernyataan Presiden Federal Reserve St. Louise James Bullard yang mengatakan bahwa bank sentral harus mempertimbangkan menunda penghentian pembelian obligasi dengan tujuan agar dapat menahan penurunan prediksi inflasi AS berpotensi membawa sedikit angin segar bagi pasar global. Dari dalam negeri, investor masih akan menantikan proses pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih oleh MPR pada awal pekan depan. Sementara itu, permintaan ORI011 dilaporkan mengalami oversubscribe mencapai Rp20,75 triliun, dari target Rp20 triliun. Dari politik, PPP akhirnya memastikan bergabung ke dalam Koalisi Indonesia Hebat.

Secara teknikal IHSG tetap membentuk bullish candle namun seakan terlihat tidak mampu break out resistance MA7  meskipun Indikator stochastic masih menunjukan pergerakan yang bullish dengan Momentum yang menguat dari Indikator RSI. Jika IHSG dapat break out MA7 maka itu akan menjadi konfirmasi pergerakan positifnya. Diprediksikan IHSG masih akan bergerak mixed dengan kecenderungan menguat dengan range 4923-4970.

0 comments:

Post a Comment

 
Terasbursa.com © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top