Mayoritas indeks saham di Asia melemah karena data pertumbuhan ekonomi China gagal menghapus kekhawatiran bahwa ekonomi terbesar kedua di dunia sedang kehilangan momemtum.

Ekonomi China tumbuh 7.3% (YOY) selama periode Juli-September, sedikit di atas ekspektasi pertumbuhan 7.2% (YOY) dan setelah tumbuh 7.5% (YOY) di Kuartal II 2014. Namun pertumbuhan di Kuartal III ini adalah yang paling lambat sejak Kuartal I 2009 di mana ketika itu ekonomi hanya tumbuh 6.6% (YOY) di tengah puncak krisis finansial global 2008.

Data lain memperlihatkan Industrial Production bulan September tumbuh 8.0% (YOY), lebih baik dari ekspektasi dan naik dari pertumbuhan 6.9% (YOY) di bulan Agustus yang juga merupakan pertumbuhan terendah dalam 6 tahun.

Di sisi lain, data Fixed-Asset Investment dan Retail Sales keluar lebih rendah dari estimasi, memberi sugesti bahwa Beijing mungkin masih memerlukan langkah tambahan untuk menopang pertumbuhan ekonomi.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 11.2 poin (-0.22%) ke level 5029.3 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 menciut 1.6 poin (-0.19%) ke level 853.4. Untuk pertama kali sejak 7 Oktober investor asing menarik IDR82.2 miliar keluar dari pasar saham domestik.

Indeks saham di Eropa naik tajam menyusul berita dari beberapa media, termasuk Reuters, yang mengatakan bank sentral Eropa (ECB) sedang mempertimbangkan membeli obligasi korporasi di pasar sekunder dalam rangka memperkuat program stimulus untuk melawan tekanan deflasi di zona Euro.

Keputusan akan di ambil ECB pada bulan Desember nanti dengan pembelian pertama di lakukan pada bulan Januari 2015. Ini di artikan pelaku pasar sebagai kabar baik karena ECB tidak secara tegas membantah berita ini.

Indeks saham utama di Wall Street melonjak dengan indeks S&P 500 dan NASDAQ memperpanjang kenaikan menjadi 4 hari beruntun karena investor menyambut baik laporan keuangan dari emiten seperti Apple, Texas Instruments dan United Technologies serta harapan adanya stimulus tambahan dari bank sentral Eropa (ECB).

IHSG diprediksi akan bergerak mixed cenderung menguat pada perdagangan hari ini.  Pasar Eropa dan Amerika ditutup naik kemarin. Optimisme investor meningkat setelah Reuters menerbitkan laporan yang menyebutkan bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) kemungkinan akan menyalurkan stimulus berupa pembelian obligasi di pasar sekunder, secepatnya mulai Desember mendatang. Angka penjualan rumah di Amerika yang positif juga semakin menambah optimisme investor. Pertumbuhan GDP China pada bulan July-September juga tercatat diatas estimasi, meskipun masih menunjukkan perlambatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari dalam negeri, selain menantikan pengumuman kabinet baru, investor kini juga menantikan laporan keuangan emiten periode kuartal III/2014. Masih lemahnya pergerakan harga CPO dan batubara diperkirakan berdampak negatif terhadap emiten dalam industri terkait.

Secara teknikal, IHSG telah mengkonfirmasi signal bearish counter attack serta pull back resistance upper bollinger band dengan Indikator stochastic yang mengalami dead-cross pada area overbought. Momentum bearish pun terlihat pada Indikator RSI. Sehingga peluang pelemahan IHSG masih menghantui dalam jangka pendek. Diprediksikan IHSG akan bergerak mixed cenderung kembali melemah dengan range pergerakan 4978-5068.

0 comments:

Post a Comment

 
Terasbursa.com © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top