Indeks saham di Asia melemah sementara harga minyak mentah berada di level terendah dalam 4 tahun seiring gagalnya data neraca perdagangan China menghibur investor yang masih dalam kekhawatiran mengenai pertumbuhan global.

Secara serius investor sudah menjauhi aset berisiko tinggi mengingat Eropa yang menatap prospek resesi, kondisi ekonomi Jepang yang susah untuk tumbuh, ekspansi ekonomi China yang melambat serta Federal Reserve yang segera akan mengakhiri program stimulus moneter.

Ekspor China melonjak 15.3% (YoY) di bulan September setelah tumbuh 9.4% (YoY) di bulan Agustus. Impor, yang melawan ekspektasi penurunan 2.7% (YoY), tumbuh 7% (YoY) menyusul penurunan 2.4% (YoY) di bulan Agustus, tanda bahwa permintaan domestik mungkin sedang membaik.

Sentimen juga tertekan setelah negara negara anggota IMF mengatakan akhir pekan lalu bahwa tindakan tegas diperlukan untuk menopang pemulihan ekonomi global dan mendesak Pemerintah melaksanakan reformasi di pasar tenaga kerja dan jaring pengaman sosial.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 49.9 poin (-1.01%) ke level 4913.1 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 jatuh 10.4 poin (-1.24%) ke level 828.3. Investor asing menarik IDR595.2 miliar keluar dari pasar saham domestik.

Indeks saham di Eropa melemah, memperpanjang trend penurunan yang dipicu oleh kekhawatiran atas pertumbuhan ekonomi yang stagnan di zona Euro.

Indeks saham utama di Wall Street turun selama 3 hari beruntun, dengan indeks S&P 500 ditutup di bawah garis Moving Average 200 hari dan NASDAQ terpangkas 8.6% dari level tertingginya yang tercipta di bulan September karena investor menantikan rilis laporan keuangan emiten dan mengkhawatirkan tanda tanda perlambatan ekonomi global.

Musim laporan keuangan di AS semakin sibuk dengan Intel, Johnson&Johnson, American Express dan General Electric di antara emiten Blue chip yang di jadwalkan merilis laporan keuangan dalam minggu ini.

IHSG diprediksi akan bergerak mixed cenderung menguat pada perdagangan hari ini. Pasar Eropa ditutup naik setelah data ekspor China bulan September menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Sementara pasar Amerika ditutup turun, karena masih merebaknya kekhawatiran mengenai perlambatan ekonomi global, kecemasan penyebaran virus Ebola dan spekulasi mengenai kapan The Fed akan menaikkan suku bunganya. Dari dalam negeri, Menkeu Chatib Basri pesimis akan target pertumbuhan ekonomi tahun depan yang dipatok sebesar 5,8%. Bahkan pertumbuhan ekonomi tahun ini dapat jatuh dibawah 5% apabila tekanan global semakin berat.

Secara teknikal turun memperpanjang corrections wave A namun masih berada diatas support 4900. Bila pada level ini IHSG rebound maka valid corrections wave A telah dibentuk. Namun bila dilihat dengan cycle yang lebih kecil IHSG mempunyai pola inverted EW yang sedang membentuk gelombang 5 dengan target ideal 4862 tepat pada lower bollinger bands. indikator Stochastic masih bergerak terkonsolidasi pada area dekat oversold dengan Indikator RSI yang berpotensi membetuk signal bullish reversal momentum. Diprediksikan IHSG akan bergerak mixed cenderung mencoba rebound dengan range 4900-4972.

0 comments:

Post a Comment

 
Terasbursa.com © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top