Indeks saham di Asia turun dan harga minyak mentah jenis Brent anjlok ke level terendah sejak 2010 setelah pelemahan pada data ekspor Jerman memperbesar ketakutan bahwa masalah ekonomi Eropa dapat menyeret ekonomi global.Banyak investor merasa takut bahwa pemulihan perlahan ekonomi AS, terbesar di dunia namun masih < 25% dari ekonomi global tidak dapat lolos tanpa cedera pada saat Eropa tidak mengalami pertumbuhan sementara ekonomi besar lainnya, termasuk China, Jepang dan Brazil juga mempunyai masalah sendiri.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 30.9 poin (-0.62%) ke level 4963 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 menciut 5.7 poin (-0.68%) ke level 838.7. Secara mingguan, IHSG dan LQ-45 masing masing naik tipis 13.6 poin (0.28%) dan 4.8 poin (0.57%). Investor asing Jumat lalu menarik IDR620.3 miliar keluar dari pasar saham domestik, memperbesar total Net Sell asing minggu lalu menjadi IDR1,08 triliun.
Indeks saham di Eropa mencatatkan penurunan mingguan paling tajam dalam lebih dari 2 tahun setelah seminggu penuh digoyang oleh kekhawatiran atas kesehatan ekonomi Jerman khususnya dan pelemahan ekonomi di zona Euro secara umum.
Pernyataan dari Presiden bank sentral Eropa (ECB) Mario Draghi pada hari Kamis juga menekan sentimen. Dalam pidatonya di Brooking Institute, Draghi menegaskan bahwa Quantitative Easing tidak akan efektif jika tidak dibarengi dengan reformasi ekonomi.
Kelesuan ekonomi di zona Euro masih terjadi. Data Industrial Production Perancis mencatatkan stagnasi di bulan Agustus sementara Industrial Production Italia tumbuh sedikit.
Indeks saham utama di Wall Street turun tajam akhir pekan lalu dan memperpanjang penurunan menjadi 3 minggu beruntun. Indeks mendapat sentimen negatif tambahan dari agen pemeringkat Standard * Poor’s yang menurunkan (downgrade) outlook utang Perancis dari stabil menjadi negatif.
IHSG diprediksi akan bergerak mixed cenderung melemah pada perdagangan hari ini. Pasar Eropa dan Amerika ditutup turun pada akhir pekan kemarin. Sentimen pasar masih dipengaruhi seputar perlambatan ekonomi global, terutama yang terjadi di kawasan Uni Eropa, dimana Jerman yang selama ini dianggap sebagai negara industri terbesar di kawasan tersebut juga mengalami pelemahan pada data-data ekonominya. Presiden ECB Mario Draghi bahkan mengingatkan resiko akan terjadinya deflasi. Hari ini investor masih akan menantikan data Trade Balance dari China. Dari dalam negeri, pelemahan Rupiah yang mencapai 3,3% selama sebulan terakhir menyebabkan prospek usaha beberapa sektor industri yang berbahan dasar import dikhawatirkan dapat mengalami penurunan margin keuntungan.
Sedangkan, secara teknikal IHSG membentuk bullish candlestick yang berarti pergerakan IHSG pada hari ini cenderung menguat. meskipun melemah dan berpotensi membentuk pola Horn Bottom dengan potensi pembalikan arah jangka pendek hingga menutup gap. Indikator Stochastic terkonsolidasi dengan momentum RSI yang juga terkonsolidasi pada area dekat oversold dan Indikator MACD telah terlihat adanya penguatan histogram menuju area positif dengan potensi golden-cross MACD line dengan signal line pada area negatif. Sehingga diprediksikan IHSG akan mencoba menguat hingga menutup gap dengan range 4930-5000.
0 comments:
Post a Comment