Indeks saham di Asia melonjak setelah naskah pertemuan kebijakan Federal Reserve (Fed Minutes) tanggal 16-17 September lalu melukiskan kekhawatiran atas ancaman (downside risk) bagi ekonomi AS yang datang dari penguatan nilai tukar USD dan perlambatan ekonomi global.

Fed Minutes memperlihatkan para pejabat the Fed kesulitan dengan bagaimana cara mengalahkan ancaman penguatan nilai tukar USD dan perlambatan ekonomi global pada saat mereka mencari strategi keluar dari kondisi suku bunga super rendah.

Data Core Machinery Orders Jepang, indikator utama dalam memantau Belanja Modal (CAPEX) korporasi, naik selama 3 bulan beruntun di bulan Agustus. Core Machinery Orders tumbuh 4.7%, lebih baik dari ekspektasi kenaikan 0.5% dan lebih cepat dari pertumbuhan 3.5% di bulan Juli.  

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 35.4 poin (0.71%) ke level 4993.9 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 maju 7 poin (0.84%) ke level 844.4. Namun, investor asing menarik IDR241.3 miliar keluar dari pasar saham domestik.

Kegembiraan atas Fed Minutes di awal sesi perdagangan pudar seiring munculnya tekanan atas indeks saham di Eropa, dipicu oleh kekhawatiran atas kesehatan ekonomi Jerman.

Menambah panjang bukti bahwa ekonomi Jerman sedang memasuki fase pelemahan, data memperlihatkan ekspor di bulan Agustus menderita penurunan bulanan terbesar sejak Januari 2009. Data ini menyusul data Industrial Production dan Factory Orders, dirilis awal minggu ini, yang turun lebih besar dari ekspektasi.
.
Indeks saham utama di Wall Street tenggelam di teritori negatif, menghapus semua kenaikan yang diperoleh pada rally sehari sebelumnya karena investor mengabaikan laporan keuangan emiten di AS dan data ekonomi. Investor lebih memberi perhatian pada kehawatiran global, termasuk pelemahan ekonomi di Eropa.

Presiden bank sentral Eropa (ECB) Mario Draghi mengatakan masalah yang di hadapi Eropa bersifat struktural bukan siklus (Cyclical) sehingga tanpa reformasi tidak akan ada pemulihan. Draghi juga mengatakan ada sejumlah indikasi bahwa pertumbuhan ekonomi zona Euro melambat sehingga ECB harus berjuang menaikkan inflasi.

IHSG diprediksi akan bergerak mixed cenderung melemah pada perdagangan hari ini. Pasar Eropa dan Amerika ditutup turun kemarin, setelah kekhawatiran mengenai perlambatan ekonomi global kembali merebak. Pertumbuhan ekonomi dan industri Uni Eropa yang masih dibawah estimasi dikhawatirkan dapat memicu terjadinya deflasi, sementara The Fed sudah akan mengakhiri program stimulusnya pada akhir bulan ini. Dari dalam negeri, beberapa ruas tol termasuk Jakarta-Cikampek akan mengalami kenaikan tarif 10%-13% mulai 16 Oktober mendatang. Sementara itu, mulai terjadi pergolakan di tubuh Koalisi Merah Putih karena sejumlah fraksi seperti PPP berpotensi akan berbalik arah dan mendukung Koalisi Indonesia Hebat. Golkar juga sedang mengalami transisi dalam memilih ketua umum yang baru untuk menggantikan Aburizal Bakrie.

Sedangkan secara teknikal, IHSG bergerak gap up dan ditutup masih dibawah level pisikologis. Namun indikator stochastic yang masih bergerak bullish dari area overbought dengan Indikator RSI yang bergerak menguat membuat peluang penguatan IHSG masih akan terus terjadi dengan range pergerakan 4973-5060.

0 comments:

Post a Comment

 
Terasbursa.com © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top