Indeks saham di Asia berakhir mixed seiring dengan investor fokus pada keputusan bank sentral di Jepang dan Australia. Sejalan dengan ekspektasi pasar, Reserve Bank of Australia (RBA) mempertahankan suku bunga acuan pada tingkat 2.5% dan mengulangi komitmen atas periode kestabilan suku bunga.
Bank Of Japan (BOJ) juga mempertahankan kebijakan moneter namun memberi pandangan ekonomi yang kurang optimis dengan memperingatkan pelemahan pada data Industrial Production.
Ini juga bisa di artikan sebagai pengakuan BOJ bahwa dampak terhadap ekonomi dari kenaikan pajak penjualan bulan April lalu lebih parah dari yang di perkirakan.
BOJ akan tetap memegang teguh janjinya untuk menambah uang beredar sebesar 60-70 triliun Yen setiap tahun melalui pembelian obligasi Pemerintah Jepang dan aset berisiko tinggi.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertambah 32.7 poin (0.65%) ke level 5032.8 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 maju 6.9 poin (0.82%) ke level 852.4. Setelah sejak 22 September lalu terus menarik dana keluar dari pasar saham domestik, investor asing akhirnya mencatatkan Net Buy, senilai IDR104.4 miliar.
Indeks saham di Eropa turun tajam setelah data Industrial Output Jerman keluar mengecewakan dengan anjlok 4% di bulan Agustus sehingga memberi konfirmasi bahwa ekonomi terbesar di Eropa kehabisan tenaga.
Penurunan indeks diperparah oleh keputusan IMF memangkas proyeksi ekonomi zona Euro tahun ini menjadi 0.8% dari perhitungan sebelumnya 1.1%.
Indeks saham utama di Wall Street turun tajam karena investor mengkhawatirkan perlambatan pertumbuhan ekonomi di Eropa serta dampaknya pada kinerja keuangan korporasi AS di Kuartal III.
Investor berlomba memburu rasa aman dalam obligasi Pemerintah AS (US Treasury) sehingga menekan imbal hasil (yield) menjadi 2.34%. Rasa khawatir investor tercermin jelas pada indeks volatilitas CBOE VIX yang naik 12% ke level 17.39, tertinggi sejak bulan Maret.
IHSG diprediksi akan bergerak melemah pada perdagangan hari ini. Pasar Eropa dan Amerika ditutup turun kemarin. Sentimen masih dipengaruhi seputar perlambatan pertumbuhan ekonomi yang terjadi di Uni Eropa, sementara belum ada pernyataan resmi dari ECB mengenai stimulus tambahan. Pembacaan FOMC Meeting Minutes malam ini juga masih akan menjadi perhatian investor global. Dari dalam negeri, pimpinan DPR-MPR kini dikuasai kelompok oposisi pemerintah. Kami memprediksi pasar akan merespon negatif akan hal tersebut, tercermin dari semakin melemahnya Rupiah terhadap USD. Sementara itu, Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pada 7,5% kemarin.
Sedangkan secara teknikal, IHSG mengkonfirmasi pola positif dari bullish harami dan bergerak terus mencoba mengapai resistance level di level 5060. Indikator stochastic bergerak bullish setelah golden-cross dengan bullish momentum dari indikator RSI dari area oversold. Diprediksikan IHSG akan bergerak mixed dengan kecenderungan menguat terbatas dengan range 5010-5090.
0 comments:
Post a Comment