Mayoritas indeks saham di Asia akhir pekan lalu menderita penurunan mengikuti indeks saham di Wall Street yang menderita penurunan terbesar dalam hampir 2 bulan.Data inflasi inti tahunan Jepang melambat di bulan Agustus memperkuat sinyal bahwa Bank Of Japan dapat dipaksa untuk menambah langkah stimulus demi mencapai target inflasi 2% di tahun fiskal mendatang.
Inflasi inti nasional Jepang tumbuh 3.1% (YoY) di bulan Agustus. Jika tanpa memperhitungkan dampak dari kenaikan pajak penjualan sejak bulan April lalu, inflasi inti (Core CPI) tumbuh 1.1% (YoY), lebih lambat dari pertumbuhan 1.3% di bulan Juli.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh 68.8 poin (-1.32%) ke level 5132.6. Indeks saham Blue Chip LQ-45 terpangkas 13.9 poin (-1.57%) ke level 870.5. Secara mingguan, IHSG dan LQ-45 masing masing anjlok 95 poin (-1.82%) dan 20.1 poin (-2.26%). Investor asing Jumat lalu menarik IDR1.42 triliun keluar dari pasar saham domestik, memperbesar total Net Sell asing minggu lalu menjadi IDR2,98 triliun.
Indeks saham di Eropa berhasil mengkonsolidasikan kenaikan tipis setelah menderita tekanan jual sehari sebelumnya, sementara indeks saham DAX 30 di Jerman turun terseret oleh anjloknya saham perusahaan asuransi Allianz.
Berita bahwa fund manager legendaris Bill Gross mengundurkan diri sebagai Chief Investment Officer (CIO) di PIMCO, yang dimiliki oleh Allianz, menjadi pemicu kejatuhan harga saham Allianz (-6%). Bill Gross mengundurkan diri untuk bergabung dengan Janus Capital Group.
Indeks saham utama di Wall Street naik tajam, memperkecil penurunan mingguan, setelah Pemerintah AS menaikkan estimasi pertumbuhan ekonomi Kuartal II dan data University of Michigan Consumer Sentiment Index naik ke level 84.6 di bulan September dari 82.5 pada bulan sebelumnya.
Pertumbuhan ekonomi AS selama Kuartal II di revisi menjadi 4.6% (YoY) dari 4.2% (YoY), utamanya karena peningkatan kinerja ekspor dan investasi swasta.
IHSG diprediksi akan bergerak mixed cenderung menguat terbatas pada perdagangan hari ini. Pasar Eropa dan Amerika ditutup naik pada akhir pekan kemarin. Sentimen pasar masih dipengaruhi seputar ekspektasi stimulus untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Zona Euro. Sementara itu, salah satu anggota The Fed juga mengatakan bahwa kenaikan suku bunga kemungkinan akan dilakukan pada musim semi tahun depan, menyusul sinyal pemulihan ekonomi AS yang semakin kuat. Pertumbuhan ekonomi AS tersebut ditopang oleh investasi perusahaan dan belanja rumah tangga. Dari dalam negeri, belum stabilnya situasi dan kondisi pasca-pemilu kembali mencuat akibat RUU Pilkada yang disahkan oleh DPR minggu lalu. Hal ini berpotensi membawa dampak negatif bagi IHSG. Di samping itu, pada APBN 2015 telah disepakati bahwa kuota BBM bersubsidi tidak akan dikunci lagi. Sementara itu, melemahnya pertumbuhan ekonomi juga dikabarkan menyebabkan berkurangnya penjualan lahan industri.
Secara teknikal IHSG membentuk pola hammer namun pada bearish candle. Signal pembalikan arah yang terjadi akan sedikit lemah tapi bila IHSG mampu mengkonfirmasikan dengan break out MA50 di level 5148 maka signal reversal terkonfirmasi dan berpotensi menutup gap hingga level 5171. Indikator Stochastic bergerak bearish namun telah sampai pada area jenuh jual sehingga berpotensi golden-cross bila IHSG terkonfirmasi rebound. Momentum IHSG dari Indikator RSI telah berada pada dekat oversold. Diprediksikan IHSG akan bergerak mencoba rebound dengan range 5117-5171.
0 comments:
Post a Comment