Indeks saham di Asia menderita penurunan tajam karena investor menantikan data ekonomi yang dapat menambah bukti perlambatan ekonomi di China.

Perhitungan awal (flash) data manufacturing PMI China yang akan dirilis hari Selasa diperkirakan keluar dibawah level 50, indikasi aktifitas sektor manufaktur mengalami kontraksi.

Akhir pekan lalu, Menteri Keuangan dan pejabat bank sentral negara negara yang tergabung dalam G20 berkumpul di kota Cairns, Australia. Mereka mengklaim telah mencatat sejumlah kemajuan berarti dalam memperbaiki ketahanan sistem finansial global dan menutup celah pajak yang bisa dieksploitasi oleh perusahaan multi nasional, namun memperingatkan bahwa kelesuan ekonomi di Eropa masih menjadi batu sandungan yang besar.

Dalam pertemuan G20 itu, Menteri Keuangan China Lou Jiwei mengatakan China tidak akan merubah kebijakan ekonomi hanya karena satu atau beberapa indikator ekonomi memburuk.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tipis 7.8 poin (0.37%) ke level 5219.8. Indeks saham Blue Chip LQ-45 juga naik tipis, hanya 0.36 poin (0.04%) ke level 891. Investor asing membukukan Net Buy sebesar IDR26.6 miliar.

Saham saham sektor pertambangan memimpin penurunan indeks saham di Eropa akibat kehawatiran bahwa China, salah satu pengguna terbesar produk berbasis sumber daya alam, akan memberi toleransi pada pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat.

Indeks saham utama di Wall Street turun tajam karena China mengirim sinyal tidak akan menambah stimulus dan setelah data penjualan rumah lama (Existing Home Sales) di bulan Agustus secara tak terduga mengalami penurunan untuk pertama kali dalam 5 bulan terakhir.

Selain itu, aktifitas ekonomi yang diukur oleh data Chicago Fed National Activity Index melambat di bulan Agustus.

IHSG diprediksi akan bergerak mixed cenderung melemah pada perdagangan hari ini. Pasar Eropa dan Amerika ditutup turun kemarin, setelah pernyataan dari Menteri Keuangan China bahwa pemerintahnya tidak akan menambah stimulus ke pasar. Presiden ECB Mario Draghi juga mengatakan bahwa pemulihan ekonomi Uni Eropa sedang kehilangan momentum, dimana inflasi diperkirakan tetap rendah sebelum mulai naik pada 2015 dan 2016. HSBC Flash Manufacturing PMI China hari ini masih patut menjadi perhatian investor. Dari dalam negeri, RAPBN 2015 mengasumsikan pertumbuhan ekonomi 5,8%, dan inflasi 4,4%. Sementara itu, Biro Pusat Statistik memperkirakan bahwa inflasi diperkirakan naik 1,5% apabila harga BBM naik Rp3.000 pada November. Di samping itu, pemerintah dan DPR menyetujui anggaran subsidi energi tahun 2015 dikurangi sebesar Rp 15,1 triliun dari rencana awal.

Bila dilihat dari Technical IHSG Break out support dan terlihat memantul pada resistance upper bollinger bands yang bila terkonfirmasi akan berpotensi terkoreksi hingga 5150 yang merupakan support dari bullish trend line. Indikator Stochastic memberikan signal waspada dengan indikasi formasi dead-cross pada area overbought dengan Bearish momentum dari Indikator RSI. Indikator lain seperti ADX memperlihatkan berpotensinya terjadi reversal trend menjadi negatif. Diprediksikan IHSG akan kembali bergerak tertekan mixed cenderung melemah dengan range pergerakan 5185-5250.

0 comments:

Post a Comment

 
Terasbursa.com © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top