Mayoritas indeks saham di Asia melemah setelah data Industrial Production bulan Agustus China tumbuh dengan laju terlemah dalam 6 tahun sementara kekhawatiran atas dampak dari sanksi baru terhadap proyek migas di Rusia memberi tekanan pada harga minyak mentah dunia.

Akhir pekan lalu, China merilis sejumlah data ekonomi yang membangkitkan kekhawatiran atas pelemahan ekonomi China. Data Industrial production bulan Agustus China tumbuh 6.9% (YoY), terendah sejak 2008 sementara data Fixed-Asset Investment dan Penjualan Ritel masing masing lebih rendah dari estimasi.

AS dan Uni Eropa menjatuhkan sanksi baru atas Rusia minggu lalu, menghambat eksplorasi pada cadangan migas Rusia di daerah Artik dan mengatur lebih ketat pendanaan bagi proyek migas yang sudah berjalan di Rusia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik tipis 1.2 poin (0.02%) ke level 5144.9 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 juga naik tipis 0.02% atau 0.2 poin ke level 870.3. Investor asing menarik IDR577.9 miliar keluar dari pasar saham domestik.

Indeks saham di Eropa turun tipis, terbebani oleh data Industrial Production China yang pertumbuhannya melambat ke tingkat yang tidak pernah terlihat sejak puncak krisis finansial global 6 tahun lalu.

Investor juga tetap bersikap waspada menjelang pengumuman hasil pertemuan kebijakan Federal Reserve pada hari Rabu.

Indeks saham utama di Wall Street berakhir mixed, dipimpin oleh saham berkapitalisasi kecil (small caps) karena investor terus keluar dari posisi yang lebih berisiko sebelum pertemuan Federal Reserve dan juga jatuhnya saham sektor teknologi menjelang rencana debut saham Alibaba minggu ini.

Rilis data ekonomi AS memberi gambaran yang kontradiktif. Data Empire State Manufacturing Survey membaik ke level tertinggi dalam hampir 5 tahun. Sebaliknya, data Industrial Production secara tak terduga turun di bulan Agustus, menandakan penurunan pertama sejak bulan Januari.

IHSG diprediksi akan bergerak mixed cenderung melemah pada perdagangan hari ini. Pasar Eropa dan Amerika ditutup mix cenderung melemah kemarin. Investor global masih menantikan hasil rapat FOMC besok, khususnya mengenai rencana kenaikan suku bunga The Fed. Ketidakpastian referendum Skotlandia juga masih mempengaruhi sentimen investor global. Dari dalam negeri, APBN 2015 yang baru saja disepakati di DPR menargetkan kenaikan lifting minyak untuk mengurangi impor. Hal ini berpotensi memberikan dampak positif berupa naiknya penerimaan negara sebesar Rp11 triliun dan memperkecil defisit fiskal 2015 sebesar 2,23% terhadap PDB. Sementara itu, Jokowi memastikan 18 kementerian dalam kabinet pemerintahannya akan diisi profesional murni, sementara 16 sisanya dari profesional berlatar belakang parpol.

Sedangkan secara teknikal, IHSG kembali dapat bergerak rebound pada support bullish trend jangka panjang setelah menutup gap yang terbentuk. Indikator stochastic mencoba golden-cross pada kondisi sempurna diarea oversold meskipun momentum RSInya masih cenderung bergerak consolidasi pada medium osilator. Bila dilihat dari pergerakan gelombang yang terdapat pada IHSG saat ini sedang membentuk correciton wave A dengan target ideal pada level 5000. Dengan demikian diprediksikan IHSG akan bergerak mixed cenderung kembali menguat terbatas dengan range 5117-5174.

0 comments:

Post a Comment

 
Terasbursa.com © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top