Indeks saham di Asia bergerak mixed setelah data ekonomi bulanan China dan Australia keluar dengan hasil yang beragam.

Indeks Harga Konsumen (IHK) atau Consumer Price Index (CPI) China mendingin di bulan Agustus, tumbuh 2% (YoY), lebih rendah dari ekspektasi 2.2% dan pertumbuhan 2.3% (YoY) di bulan Juli. Sementara itu, data Producer Price Index (PPI) terus mengalami deflasi, turun 1.2% menyusul deflasi 0.9% di bulan Juli.

Meskipun data data ini menambah bukti dari perlambatan ekonomi namun para pengamat ekonomi terpecah atas apakah Beijing akan menggunakan ruang fiskal yang ada dalam bentuk langkah stimulus baru.

Ekonomi Australia menambah 121,000 lapangan kerja di bulan Agustus, jauh melebihi ekspektasi penambahan 12,000 pekerja. Akibatnya, Tingkat Pengangguran turun menjadi 6.1% dari 6.4% di bulan Juli yang juga adalah tingkat tertinggi dalam 12 tahun.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpangkas 10 poin (-0.19%) ke level 5133 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 mundur 4.4 poin (-0.50%) ke level 869. Investor asing menarik IDR599.8 miliar keluar dari pasar saham domestik.

Indeks saham di Eropa melemah akibat kehawatiran mengenai aksi militer AS dan referendum pemisahan diri Skotlandia.

Investor dikhawatirkan oleh pengumuman yang dibuat Presiden AS Barack Obama bahwa AS akan meningkatkan serangan udara terhadap ISIS di Irak dan Suriah. AS juga akan memberi asistensi kepada kekuatan oposisi di Suriah.

Selain itu, Uni Eropa sepakat untuk menjatuhkan serangkaian sanksi baru atas Rusia mulai efektif hari ini.

Indeks saham utama di Wall Street turun tipis, karena investor bersikap waspada ditengah kenaikan tak terduga pada data Initial Jobless Claims dan jatuhnya harga sejumlah komoditas.

IHSG diprediksi akan bergerak mixed cenderung melemah terbatas pada perdagangan hari ini. Pasar Eropa dan Amerika ditutup mixed cenderung melemah pada perdagangan terakhir. Sentimen investor masih dipengaruhi oleh faktor geopolitik, antara lain tuntutan kemerdekaan Skotlandia dari Inggris, sanksi lebih berat terhadap Rusia, dan rencana AS untuk memimpin perlawanan terhadap pemberontak Irak-Syria. Akhir pekan ini investor masih akan menantikan data Consumer Sentiment dan Retail Sales AS, serta Industrial Production dari China. Dari dalam negeri, Bank Indonesia tidak merubah suku bunga acuan pada 7,5% selama 10 bulan terakhir, untuk mengantisipasi terjadinya kenaikan harga BBM bersubsidi pada periode pemerintahan yang akan datang.

Sedangkan secara teknikal, IHSG gagal melakukan rebound dan kembali melemah hingga break out support fractal pada area lower bollinger bands. Indikator Stochastic bergerak bearish namun sudah berada pada area dekat oversold dengan Berkurangnya momentum bearish dari RSI yang seakan bergerak menjenuh diarea medium osilator. Histogram pada MACD mengalami pelemahan cukup tinggi hingga -10 dengan signal line yang terus bergerak bearish. Berdasarkan Sentimen dan Indikator tersebut diprediksikan IHSG akan bergerak berfluktuatif mencoba kembali rebound dengan range 5112-5170.

0 comments:

Post a Comment

 
Terasbursa.com © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top