Indeks saham di Asia anjlok akhir pekan lalu karena investor mencari rasa aman pada aset safe haven dipicu oleh semakin besarnya ketakutan bahwa konflik di Ukrania dan Timur Tengah dapat mengikis pertumbuhan ekonomi global.Indeks sempat terangkat ketika China melaporkan bahwa kinerja ekspornya tumbuh 14.5% (YoY) sementara impor turun 1.6% (YoY) sehingga menyisakan surplus perdagangan $47.3 miliar pada bulan Juli.
Namun, indeks kembali melemah setelah Presiden AS Barack Obama memberi perintah pada militer AS untuk melakukan serangan udara secara selektif atas sejumlah target di Irak untuk melindungi keberadaan pasukan AS dan suku minoritas Yazidi.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 13.2 poin (-0.26%) ke level 5053.8. Indeks saham Blue Chip LQ-45 kehilangan 3.1 poin (-0.36%) ke level 861.9. Secara mingguan, IHSG dan LQ-45 masing masing melemah 35 poin (-0.69%) dan 6.4 poin (-0.74%). Investor asing Jumat lalu menarik IDR174.9 miliar keluar dari pasar saham domestik, memperbesar total Net Sell asing minggu lalu menjadi IDR847 miliar.
Indeks saham di Eropa turun sehingga mencatatkan penurunan mingguan lebih dari 2% ditekan oleh ketegangan gepolitik dan kekhawatiran pertumbuhan ekonomi regional sebagai dampak dari perang dagang antara Rusia dan negara negara Barat.
Dari sisi ekonomi, data Neraca Perdagangan Jerman untuk bulan Juni memperlihatkan impor tumbuh pada laju tercepat dalam hampir 4 tahun. Sementara itu, data Industrial Production Perancis tumbuh lebih cepat dari ekspektasi di bulan Juni.
Indeks saham utama di Wall Street melompat dan mencatatkan kenaikan secara mingguan, di dorong oleh sinyal penurunan ketegangan dalam krisis Ruisa-Ukrania serta pandangan pelaku pasar bahwa langkah militer AS Irak bersifat terbatas.
Reuters, mengutip kantor berita Rusia Interfax, melaporkan bahwa Rusia telah mengakhiri latihan militer di dekat perbatasan dengan Ukrania. Latihan perang yang dimulai pada hari Senin dijadwalkan berakhir pada hari Jumat, menurut sejumlah media, termasuk The Guardian.
IHSG diprediksi akan bergerak mixed cenderung melemah pada perdagangan hari ini. Pasar Eropa ditutup turun setelah meningkatnya ketegangan di Irak, dan rencana AS untuk melancarkan serangan udara atas pemberontak di kawasan tersebut. Sementara pasar Amerika ditutup naik setelah Rusia dikabarkan menyudahi latihan militernya di perbatasan Ukraina. Akhir pekan lalu, China merilis data inflasi yang masih sesuai dengan estimasi. Dari dalam negeri, investor masih menantikan keputusan BI Rate pada Kamis mendatang, serta keputusan MK atas sengketa pilpres yang diperkirakan akan diumumkan pada 21 Agustus mendatang. Sementara itu, prospek bisnis batubara diprediksi kian suram setelah pemerintah China memutuskan untuk melarang penggunaan batubara sebagai bahan bakar pembangkit listrik di enam distrik utamanya mulai 2020 nanti.
Sedangkan secara teknikal, Terkonsolidasi namun masih berada diatas Suppot MA25. Indikator Stochastic masih beberikan signal pergerakan bearish dengan momentum RSI yang bergerak bearish momentum pada area dekat oversold. Sehingga peluang kenaikan tetap ada. IHSG sendiri telah mencapai lower bollinger band jika IHSG mampu bertahan dan rebound peluang kenaikan IHSG hingga mencapai 5137. Diprediksikan IHSG masih akan bergerak mixed cenderung menguat dengan range pergerakan 5028-5100.
0 comments:
Post a Comment