Indeks saham di Asia melemah setelah data pertumbuhan sektor jasa di China turun ke level terendah sementara pertemuan bank sentral di India dan Australia juga menjadi fokus perhatian investor.

Data Services Purchasing Managers’ Index (PMI) bulan Juli China versi HSBC turun ke level 50  dari level tertinggi dalam 15 bulan, 53.1 di bulan Juni.

Ini adalah level terendah sejak survei pertama kali dilakukan oleh HSBC pada November 2005, indikasi bahwa pemulihan ekonomi secara umum masih rentan dan mungkin membutuhkan dukungan Pemerintah lebih besar lagi.

Seperti yang sudah diramalkan, bank sentral Australia, the Reserve Bank of Australia (RBA) mempertahankan suku bunga acuan Cash rate di tingkat 2.5% serta menandakan setahun penuh tanpa perubahan suku bunga. Kebijakan ini tampaknya masih akan diambil untuk beberapa waktu ke depan seiring dengan penyesuaian yang di lakukan ekonomi Australia pasca berakhirnya booming pertambangan.

Bank sentral India, the Reserve Bank of India (RBI) mempertahankan suku bunga acuan di tingkat 8%, sejalan dengan ekspektasi pasar. Namun RBI memperingatkan risiko inflasi masih besar, terutama jika curah hujan yang turun lebih sedikit sehingga dapat memicu lonjakan harga bahan makanan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kehilangan 10.2 poin (-0.20%) ke level 5109.1. Indeks saham Blue Chip LQ-45 menciut 2.6 poin (-0.30%) ke level 875.5. Investor asing menarik IDR130.6 miliar keluar dari pasar saham domestik.

Indeks saham di Eropa naik meskipun data perhitungan akhir (Final) Composite PMI zona Euro berada di level 53.8, sedikit di bawah ekspektasi pasar yang sebesar 54.0.

Indeks saham utama di Wall Street turun tajam menyusul beredarnya kabar bahwa Rusia telah memperkuat kehadiran militernya di perbatasan dengan Ukrania. Selain itu, ketakutan bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan menyusul membaiknya sejumlah indikator ekonomi As juga terus mengusik ketenangan investor.

IHSG diprediksi akan bergerak mixed cenderung melemah pada perdagangan hari ini. Pasar Eropa ditutup mixed, investor menunggu hasil keputusan rapat ECB yang akan diselenggarakan besok. Sedangkan pasar Amerika ditutup turun, setelah sebuah laporan menyebutkan bahwa pasukan Rusia telah bersiap di perbatasan Ukraina untuk melakukan invasi. Selain itu, membaiknya data ekonomi juga menyebabkan kekhawatiran akan dinaikkannya suku bunga The Fed dalam waktu dekat. Dari dalam negeri, pertumbuhan ekonomi kuartal II tercatat 5,12% yoy, atau lebih rendah dari estimasi pada 5,2%. Defisit neraca perdagangan diperkirakan masih menjadi faktor pemberat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester II ini. Namun, di lain sisi, pembatasan konsumsi BBM bersubsidi diharapkan dapat menurunkan nilai impor. Sementara itu, pemerintah dan DPR berencana akan mempermudah syarat pendirian perusahaan atau perseroan terbatas (PT), yaitu dengan menerapkan jumlah modal disetor Rp0.

Sedangkan secara teknikal, IHSG kembali terkonsolidasi namun masih bertahan pada support MA7 dengan pergerakan Indikator Stochastic yang masih cenderung bullish meskipun momentum RSI yang mengisaratkan keterbatas dalam penguatan. Diprediksikan IHSG masih bergerak mixed mencoba menguat dengan range pergerakan 5090-5150.

0 comments:

Post a Comment

 
Terasbursa.com © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top