Indeks saham di Asia berakhir beragam (mixed) akhir pekan lalu menyusul rilis data Non-Farm Payrolls AS yang keluar lebih baik dari ekspektasi.Data Non-Farm Payrolls bertambah 288,000 bulan lalu dan Tingkat Pengangguran turun menjadi 6.1%. Pembukaan lapangan kerja telah mencapai lebih dari 200,000 setiap bulannya dalam 5 bulan terakhir, pertama kali terjadi sejak akhir dekade 1990an.
Ini memberi indikasi bahwa ekspektasi kinerja ekonomi yang solid di Semester II akan terpenuhi, mendorong indeks DJIA menembus level psikologis 17,000 untuk pertama kali dalam sejarah pada hari Kamis.
Data ekonomi belakangan ini telah memberi gambaran yang ambisius bagi ekonomi AS dan telah memberi investor keyakinan bahwa Federal Reserve tidak akan mulai menaikkan suku bunga acuan dalam wakti dekat. Keyakinan ini memberi tekanan pada imbal hasil (yield) obligasi Pemerintah AS (US Treasury) dan melemahkan nilai tukar mata uang USD.
IHSG naik 17.1 poin (0.35%) ke level 4905.8 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 bertambah 3.5 poin (0.42%) ke level 829.3. Secara mingguan, IHSG dan LQ-45 masing masing lompat 60.7 poin (1.25%) dan 13,0 poin (1.59%). Investor asing Jumat lalu menarik IDR568.4 miliar keluar dari pasat saham domestik, mengurangi total Net Buy asing minggu lalu menjadi IDR536 miliar.
Indeks saham di Eropa melemah karena pelaku pasar mencerna data Non-Farm Payrolls AS yang melebihi ekspektasi dan keputusan bank sentral Eropa (ECB) mempertahankan suku bunga pada hari Kamis.
Perbedaan pendapat terlihat di antara petinggi ECB dengan Jerman berpandangan kebijakan moneter ECB yang longgar dalam jangka paanjang akan menumbuhkan risiko seperti bubble di pasar properti dan inflasi (yang dapat mempengaruhi kinerja ekspor Jerman). Namun Perancis berpendapat suku bunga rendah tidak akan mendorong Pemerintah di zona Euro untuk meninggalkan kebijakann fiskal yang hati-hati (prudent).
Indeks saham utama di Wall Street tutup dalam rangka libur perayaan hari kemerdekaan AS.
IHSG diprediksi akan bergerak mixed cenderung melemah pada perdagangan hari ini. Dari luar negeri, IMF memberi sinyal pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi global, yang diakibatkan oleh upaya pemangkasan stimulus Bank Sentral AS dan Eropa yang tengah menghadapi inflasi yang jauh di bawah target. Sementara dari dalam negeri, sentimen utama masih seputar pemilu pada 9 Juli mendatang, di mana pasangan Jokowi-JK dinilai lebih probisnis. Di samping itu, sentimen negatif dari defisit neraca transaksi berjalan masih menjadi momok bagi IHSG, namun Menkeu Chatib Basri optimis bahwa pada defisit bisa ditekan menjadi US$ 27 Miliar hingga akhir 2014 dari US$ 29 Miliar. Sementara itu, BI juga mengkaji masalah aturan pengontrol utang luar negeri swasta yang dianggap makin mengkhawatirkan.
Secara teknikal IHSG bergerak konsolidasi dengan Indikator Stochastic yang memberikan signal negatif yaitu dead-cross diarea overbought dengan momentum yang relatif moderate dari RSI. Fluktuasi harga dari IHSG telah mencapai upper bollinger bands dan bila tidak mampu berada di atas 4902 yang merupakan MA50nya maka memicu terkoreksi IHSG. Diprediksikan IHSG akan bergerak mixed cenderung melemah dengan range pergerakan 4845-4910.
0 comments:
Post a Comment