Indeks saham di Asia berakhir mixed akhir pekan lalu setelah kekhawatiran atas Iraq berhasil membayangi sentimen positif dari pergerakan naik indeks saham di AS.
Pada hari Kamis, pertempuran sengit terjadi antara pasukan Pemerintah Irak dan militan Suni dalam perebutan kilang minayk terbesar di Irak yang juga negara prodser terbesar dalam OPEC.
Jika kilang pengolahan yang berkapasitas 300,000 barel per hari itu tetap tidak bisa beroperasi, Baghdad harus mengimpor produk minyak untuk memenuhi konsumsi domestik dan semakin memperketat pasokan yang mengalir ke pasar minyak dunia.
Akibatnya, harga minyak mentah jenis Brent kembali naik dan mencapai $114.96 pad hari Jumat, mendekati level tertinggi dalam 9 bulan.
Komoditas lain yang diuntungkan oleh konflik di Irak adalah emas, yang semapt berada dalam tekanan jual awal tahun ini namun sekarang mendekati level tertinggi dalam 2 bulan. Pada hari Kamis, harga kontrak berjangka emas mencatatkan kenaikan harian terbesar dalam 9 bulan dan tembus $1,300 di dorong oleh ekspektasi kebijakan moneter akan tetap longgar di AS, Eropa dan Jepang.
IHSG melemah 16.6 poin (-0.34%) ke level 4847.7 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 mundur 2.3 poin (-0.28%) ke level 818.2. Secara mingguan, IHSG dan LQ-45 masing masing jatuh 79 poin (-1.60%) dan 14.5 poin (-1.74%).
Mayoritas indeks saham di Eropa turun setelah perhitungan awal (flash) data Consumer Confidence Index zona Euro secara tak terduga melemah di bulan Juni di dorong oleh pertumbuhan ekonomi Kuartal I beberapa negara Eropa yang mengecewakan.
Indeks saham utama di Wall Street mencatatkan kenaokan yangb lumayan besar sehingga mendorong indeks S&P 500 dan DJIA, untuk kesekia kalinya tahun ini, ditutup pada level tertinggi sementara indeks NASDAQ ditutup di level tertinggi sejak April 2000 (14 tahun).
IHSG diprediksi akan bergerak mixed cenderung menguat pada perdagngan hari ini. Pasar Amerika dan Eropa ditutup naik pada akhir pekan lalu. Sentimen investor global masih dipengaruhi seputar kebijakan The Fed untuk mengurangi stimulus secara bertahap (tapering) dan menjaga suku bunga tetap rendah sampai setidaknya tahun depan. Kekhawatiran mengenai kelanjutan konflik di Irak juga sudah sedikit mereda setelah Presiden AS Barack Obama berkomitmen untuk mendukung pemerintah Irak dengan mengirimkan bantuan. Data Indeks Manufaktur China Versi HSBC hari ini masih patut menjadi perhatian investor. Dari dalam negeri, pemerintah memalui Kemenkeu bertekad untuk memaksimalkan penerimaan fiskal dengan menggunakan berbagai cara untuk mengurangi defisit anggaran negara yang masih dihantui oleh defisit neraca perdagangan, dan kenaikan harga beberapa komoditas penting yang masih harus diimpor seperti minyak.
Secara teknikal IHSG bergerak cenderung bearish jangka menengah meskipun Indikator Stochastic mengindikasikan golden-cross di area oversold dengan momentum Indikator RSI yang masih bearish momentum di dekat osilator oversold. Diprediksikan IHSG akan bergerak mixed cenderung mencoba kembali rebound dengan range pergerakan 4795 - 4875.
Pada hari Kamis, pertempuran sengit terjadi antara pasukan Pemerintah Irak dan militan Suni dalam perebutan kilang minayk terbesar di Irak yang juga negara prodser terbesar dalam OPEC.
Jika kilang pengolahan yang berkapasitas 300,000 barel per hari itu tetap tidak bisa beroperasi, Baghdad harus mengimpor produk minyak untuk memenuhi konsumsi domestik dan semakin memperketat pasokan yang mengalir ke pasar minyak dunia.
Akibatnya, harga minyak mentah jenis Brent kembali naik dan mencapai $114.96 pad hari Jumat, mendekati level tertinggi dalam 9 bulan.
Komoditas lain yang diuntungkan oleh konflik di Irak adalah emas, yang semapt berada dalam tekanan jual awal tahun ini namun sekarang mendekati level tertinggi dalam 2 bulan. Pada hari Kamis, harga kontrak berjangka emas mencatatkan kenaikan harian terbesar dalam 9 bulan dan tembus $1,300 di dorong oleh ekspektasi kebijakan moneter akan tetap longgar di AS, Eropa dan Jepang.
IHSG melemah 16.6 poin (-0.34%) ke level 4847.7 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 mundur 2.3 poin (-0.28%) ke level 818.2. Secara mingguan, IHSG dan LQ-45 masing masing jatuh 79 poin (-1.60%) dan 14.5 poin (-1.74%).
Mayoritas indeks saham di Eropa turun setelah perhitungan awal (flash) data Consumer Confidence Index zona Euro secara tak terduga melemah di bulan Juni di dorong oleh pertumbuhan ekonomi Kuartal I beberapa negara Eropa yang mengecewakan.
Indeks saham utama di Wall Street mencatatkan kenaokan yangb lumayan besar sehingga mendorong indeks S&P 500 dan DJIA, untuk kesekia kalinya tahun ini, ditutup pada level tertinggi sementara indeks NASDAQ ditutup di level tertinggi sejak April 2000 (14 tahun).
IHSG diprediksi akan bergerak mixed cenderung menguat pada perdagngan hari ini. Pasar Amerika dan Eropa ditutup naik pada akhir pekan lalu. Sentimen investor global masih dipengaruhi seputar kebijakan The Fed untuk mengurangi stimulus secara bertahap (tapering) dan menjaga suku bunga tetap rendah sampai setidaknya tahun depan. Kekhawatiran mengenai kelanjutan konflik di Irak juga sudah sedikit mereda setelah Presiden AS Barack Obama berkomitmen untuk mendukung pemerintah Irak dengan mengirimkan bantuan. Data Indeks Manufaktur China Versi HSBC hari ini masih patut menjadi perhatian investor. Dari dalam negeri, pemerintah memalui Kemenkeu bertekad untuk memaksimalkan penerimaan fiskal dengan menggunakan berbagai cara untuk mengurangi defisit anggaran negara yang masih dihantui oleh defisit neraca perdagangan, dan kenaikan harga beberapa komoditas penting yang masih harus diimpor seperti minyak.
Secara teknikal IHSG bergerak cenderung bearish jangka menengah meskipun Indikator Stochastic mengindikasikan golden-cross di area oversold dengan momentum Indikator RSI yang masih bearish momentum di dekat osilator oversold. Diprediksikan IHSG akan bergerak mixed cenderung mencoba kembali rebound dengan range pergerakan 4795 - 4875.

0 comments:
Post a Comment