Indeks saham di Asia ditutup beragam (mixed) seiring merangkak naiknya harga minyak mentah dunia ke level tertinggi dalam 9 bulan yang dipicu oleh ketakutan bahwa gerilyawan di Irak dapat menyebar lebih luas lagi sehingga mengganggu ekspor minyak Irak.Hari Minggu kemarin, kelompok pemberontak the Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) menduduki kota Tal Afar di bagian barat laut Irak, lebih memperkokoh cengkraman mereka atas kawasan utara negara itu. Aksi ofensif ini terjadi setelah ISIL mengaku telah mengeksekusi 1.700 tentara Pemerintah akhir pekan lalu.
Sesi perdagangan juga berlangsung penuh kehati-hatian menjelang pertemuan kebijakan FOMC pada hari Rabu. Pelaku pasar akan memperhatikan setiap sinyal untuk mencari tahu kapan bank sentral akan mulai menaikkan suku bunga acuan.
IHSG terpangkas 41.2 poin (-0.84%) ke level 4885.5 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 kehilangan 9.6 poin (-1.15%) ke level 823.1. Investor asing menarik IDR245.4 miliar keluar dari pasar saham domestik.
Indeks saham di Eropa melemah seiring pudarnya risk appettite akibat kenaikan harga minyak mentah dunia yang didorong oleh peningkatan eskalasi kekerasan di Irak.
Laju inflasi tahunan zona Euro lebih rendah 0.1% dari bulan April dan 0.5% lebih tinggi dari bulan Maret 2013. Ini mengkonfirmasi perhityngan awal inflasi yang di rilis awal bulan ini dan merupakan tingkat inflasi tahunan terendah sejak 2009. Inflasi inti turun menjadi 0.7% dari 1.0% di bulan April, menyamai rekor yang tercipta pada bulan Maret tahun ini dan Desember 2013.
Indeks saham utama di Wall Street berhasil mencatatkan kenaikan tipis ditengah antusiasme investor terhadap data ekonomi dan berita aksi korporasi dapat diredam oleh kekhawatiran peningkatan kekerasan di Irak.
Data Empire State Index yang mengukur aktifitas sektor manufaktur di negara bagian New York naik ke level 19.3 di bulan Juni dari level 19. Industrial Production bulan Mei tumbuh 0.6% setelah turun 0.1% bulan sebelumnya.
IHSG diprediksi akan bergerak mixed cenderung melemah pada perdagangan hari ini. Pasar Eropa ditutup turun kemarin setelah beredar kabar bahwa masih terjadi kekacauan di Irak dan Kenya. Harga minyak terus mengalami kenaikan dan diprediksi akan mencapai $116 pada akhir tahun. Namun, pasar Amerika ditutup naik setelah Indeks Manufaktur negara bagian New York mengalami kenaikan dari periode sebelumnya, dan juga diatas estimasi. Industrial Production juga mengalami pertumbuhan sesuai estimasi. Data Inflasi Amerika hari ini dan pernyataan FOMC besok masih menjadi perhatian investor global, yang diperkirakan dapat menentukan arah pergerakan pasar ke depannya. Dari dalam negeri, BEI akan kedatangan 2 emiten baru yaitu Sitara Propertindo dan Magna Finance yang telah memulai penawaran perdananya. Dari industri migas, pemerintah berencana membatasi ekspor gas untuk lebih memenuhi kebutuhan di dalam negeri.
Secara teknikal IHSG tidak mampu bertahan pada level 4900 sehingga break out support MA50. Jika IHSG tidak mampu kembali berada pada harga rata - rata 50 hari tersebut akan menjadi signal negatif untuk pergerakan IHSG. Indikator Stochastic sendiri mengalami dead-cross di area dekat overbought dengan momentum yang masih cenderung terkonsolidasi. Diprediksikan IHSG akan bergerak mixed cenderung mencoba menguat dengan support resistance 4870-4935.
0 comments:
Post a Comment