Mayoritas indeks saham di Asia melemah karena kewaspadaan menjelang rilis data Non-Farm Payrolls AS membayangi senitmen positif dari langkah stimulus bank sentral Eropa (ECB). Bank Dunia hari Jumat lalu mengatakan China diperkirakan akan mencatatkan pertumbuhan yang lebih lambat dalam jangka menengah, namun Beijing mempunyai kemampuan untuk menggelontorkan kebijakan yang mendukung ekonomi untuk mencapai target resmi pertumbuhan 7.5% tahun ini.
Bank Dunia berpendapat prospek laju pertumbuhan jatuh di bawah target 7.5% akan memicu kebijakan diskal dan moneter yang bersifat akomodatif.
Namun meluncurkan kebijakan yang menahan perlaambatan ekonomi justru akan berisiko memperpanjang model pertumbuhan tradisional yang bertumpu pada ekspansi kredit yang dipicu oleh investasi Pemerintah. Model pertumbuhan seperti ini memberi indikasi kegagalan China dalam reformasi struktural yang diperkukan untuk mencapai pembanagunan yang berkelanjutan.
IHSG naik tipis 1.6 poin (0.03%) ke level 4937.2 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 maju 1 poin (0.12%) ke level 833.6. Secara mingguan, IHSG dan LQ-45 masing masing bertambah 43.3 poin (0.88%) dan 9.1 poin (1.10%). Investor asing Jumat lalu menarik IDR258 miliar keluar dari pasar saham domestik, mengurangi total Net Buy asing minggu lalu menjadi IDR1,17 triliun.
Indeks saham di Eropa menguat setelah investor memberi reaksi positif terhadap data Non-Farm Payrolls AS dan saham sektor pervabjan tersu mendapat angin segar dari kebijakan stimulus yang di umumkan bank sentral Eropa (ECB) sehari sebelumnya.
Indeks saham utama di Wall Street ditutup di level tertinggi dalam sejarahdan mencatatkan kenaikan selama 3 minggu beruntun setelah data data Non-Farm Payrolls bulan Mei memperlihatkan perbaikan yang berkelanjutan, meskipun dengan lambat, di pasar tenaga kerja AS. Non-Farm Payrolls atau lapangan kerja di luar sektor pertanian dilaporkan bertambah 217,000 sementara Tingkat Pengangguran tidak, berubah, 6.3%.
IHSG diprediksi akan bergerak mixed cenderung menguat pada perdagangan hari ini. Pasar Amerika dan Eropa ditutup naik pada akhir pekan kemarin setelah data tenaga kerja Amerika cukup positif, dimana tingkat pengangguran lebih rendah dari estimasi dan Non Farm Payroll bertumbuh diatas estimasi. Surplus neraca perdagangan China juga semakin menguatkan ekspektasi akan terjadinya pemulihan ekonomi global. Dari dalam negeri, pelaku usaha perkebunan kelapa sawit meminta pemerintah untuk menurunkan bea keluar. Sementara turunnya nilai ekspor dan rendahnya penerimaan pajak dinilai beberapa pengamat sebagai sesuatu yang dapat mengancam kondisi fiskal Indonesia. Namun, masih derasnya capital inflow ditandai dengan kenaikan porsi kepemilikan investor asing pada obligasi negara yang kini mencapai 35,5%. Keputusan suku bunga BI pekan ini juga masih patut menjadi perhatian investor. Diprediksi BI rate akan dipertahankan di level 7.5%. Data penting yang perlu dicermati investor pekan ini yaitu, CPI China yang akan dirilis hari ini (9/6) dan Unemployment Claims Amerika pada hari Kamis (12/6).
Secara teknikal IHSG masih dalam pergerakaan yang sideways dalam middle bollinger bands dan tertahan oleh resistance MA7. Indikator Stochastic yang masih bergerak bullish dengan momentum RSI yang cenderung flat di tengah osilator. Diprediksikan IHSG akan kembali bergerak mixed cenderung menguat terbatas dengan range pergerakan 4916 - 4986. Bila dilihat dari chart mingguan IHSG masih bergerak dalam keadaan bearish dengan Stochastic yang bearish dan momentum RSI yang juga bergerak bearish dari area overbought. Diprediksikan untuk pergerakan selama sepekan kedapan IHSG akan bergerak cenderung melemah dengan range 4834 - 4986.
0 comments:
Post a Comment