Mayoritas indeks saham di Asia melemah karena sikap waspada investor menjelang rilis data PMI China berhasil membatangi sentimen positif dari indeks S&P 500 yang kembali memecahkan rekor level penutupan tertinggi. Data resmi Purchasing Managers’ Index (PMI) bulan Mei China dijadwalkan di rilis hari Minggu. Data yang di rilis hari Jumat lalu memperlihatkan Inflasi Inti Jepang tumbuh 3.2% (Y/Y) di bulan April, menandakan kenaikan tercepat dalam 23 tahun setelah kenaikan pajak penjualan mendongkrak harga barang di level konsumen.
Di bulan April, Jepang menaikkan pajak penjualan menjadi 8% dari 5%, sehingga data menjadi sorotan untuk mengetahui kinerja ekonomi pasca kenaikan pertama pajak penjualan dalam 17 tahun terakhir.
Data lain yang di rilis Jumat lalu mengkonfirmasi ekspektasi bahwa kenaikan pajak telah membebani ekonomi. Belanja Rumah Tangga di bulan April turun 4.6% (Y/Y) dan output sektor manufaktur anjlok 2.5% di bulan April dari bulan sebelumnya. Sehari sebelumnya, data penjualan ritel di Jepang dilaporkan terpangkas 4.4% (Y/Y) di bulan April.
IHSG mengakhiri minggu perdagangan yang pendek dengan jatuh 91.7 poin (-1.84%) ke level 4893.9 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 anjlok 24.1 poin (-2.48%) ke level 824.6. Swlama bulan Mei, IHSG dan LQ-45 masing masing naik 53.8 poin (1.11%) dan 9.6 poin (1.18%). Investor asing Jumat lalu menarik IDR642.3 miliar keluar dari pasar saham domestik, menambah total Net Sell asing minggu lalu menjadi IDR466 miliar.
Indeks saham di Eropa ditutup mixed karena investor menunggu pengumuman kebijakan mineter bank sentral Eropa (ECB) minggu ini. Investor juga mengantisipasi rilis data resmi Purchasing Managers’ Index (PMI) China pada hari Minggu.
Mayoritas indeks saham utama di Wall Street menguat, dengan indeks S&P 500 dan DJIA mencapai level penutupan tertinggi setelah data memperlihatkan belanja konsumen untuk pertama kali tahun ini mencatatkan perlambatan di bulan April. Data Consumer Sentiment Index bulan Mei turun ke level 81.9 dari 84.1 sememtara Chicago PMI bulan Mei naik ke level 65.5 dari level 63.
Pasar Amerika ditutup mix cenderung naik pada akhir pekan kemarin setelah data Consumer Spending dan Consumer Sentiment menunjukkan angka dibawah estimasi, yang memunculkan ekspektasi para pelaku pasar akan masih berlangsungnya kebijakan pelonggaran moneter dari The Fed. Sementara pasar Eropa ditutup mix karena investor cenderung menunggu hasil keputusan rapat ECB pekan ini.
Indeks Manufaktur China versi HSBC pada hari ini masih patut menjadi perhatian investor, setelah versi Pemerintah menunjukkan kenaikan dari periode sebelumnya, dan juga diatas estimasi. Selain keputusan suku bunga dan pernyataan ECB, pekan ini investor juga masih dapat mencermati data Non Farm Payroll dari Amerika.
Dari dalam negeri, data inflasi dan neraca perdagangan hari ini masih menjadi sentimen yang diperkirakan dapat mempengaruhi pergerakan pasar ke depannya, terutama menyambut bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri dimana biasanya terdapat lonjakan harga beberapa bahan pangan. Selain itu masih tingginya nilai Impor akibat meningkatnya kebutuhan belanja modal juga dapat menjadi perhatian investor dalam mencermati angka neraca perdagangan.
Secara teknikal IHSG membentuk pola bearish engulfing dengan break out support bullish trend line dan support MA25. Indikator Stochastic memberikan signal cukup mengkhawatirkan dimana terjadi dead-cross di area tengah dan berpotensi kembali mengalami pelemahan meskipun terbatas. Momentum yang ada pada saat ini dari indikator RSI bergerak bearish. IHSG telah membentuk corrections wave B dengan target selanjutnya membentuk corrections wave C hingga 4775 jika support MA50 dilevel 4862 dipatahkan. Diprediksikan IHSG akan bergerak mixed mencoba kembali berada di atas 4900 dengan kecenderungan berpotensi rebound terbatas dengan range pergerakan 4862 - 4920.
0 comments:
Post a Comment