Indeks saham di Asia naik pada hari perdagangan pertama di bulan Juni setelah data ekonomi China keluar beragam (mixed). Pasar finansial di China, Hong Kong dan Taiwan tutup karena perayaan Dragon Boat Festival.

Data yang dirilis hari Minggu menggambarkan aktifitas pabrikan China ekspansi di bulan Mei dengan laju tercepat dalam 5 bulan terakhir sementara 2 survei memperlihatkan penurunana tipis harga rumah, menambah bukti baru bahwa pasar properti China mulai mendingin.

Data resmi Purchasing Managers’ Index (PMI), yang lebih fokus pada BUMN besar, naik ke level 50.8 di bulan Mei dari level 50.4 di bualn April dan menagalahkan ekspektasi yang sebesar 50.6.

Menurut survei yang dilakukan perusahaan Real Estate E-House China Holdings Ltd, harga rumah baru di 288 kota turun 0.03% di bulan Mei dari bulan sebelumnya, menandakan penurunann harga selama 2 bulan beruntun.

Sebuah survei lain, dilakukan oleh China Real Estate Index System (CREIS), memperlihatkan harga rata rata rumah di 100 kota besar turun 0.32% di bulan Mei dari bulan April, mematahkan kenaikan harga selama 23 bulan beruntun.

IHSG naik 18.2 poin (0.37%) ke level 4912.1 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 maju 4.5 poin (0.55%) ke level 829.1. Investor asing menyalurkan IDR835.5 miliar ke dalam pasar saham domestik.

Mayoritas indeks saham di Eropa menguat setelah pelemahan data manufaktur zona Euro dan melambatnya inflasi di Jerman memperkuat ekspektasi bank sentral Eropa (ECB) akan meluncurkan langkah langkah pelonggaran kebijakan moneter pada pertemuan mereka hari Kamis nanti.

Indeks saham utama di Wall Street secara umum berakhir menguat, dengan indeks S&P 500 dan DJIA ditutup di level tertinggi, setelah ISM melaporkan kesalahan pada perhitungan Manufacturing Index bulan Mei, yang tadinya di level 53.2, lebih rendah dari 54.9 di bualn April. Namun 3 jam kemudian, ISM mengeluarkan revisi data ISM Manufacturing Index untuk bulan Mei menjadi 55.4, tertingg tahun ini.

Pasar Amerika dan Eropa ditutup mix cenderung menguat kemarin, setelah Indeks Manufaktur China dan Amerika mencatatkan kenaikan dari periode sebelumnya. Hal ini sempat membuat beberapa emiten pertambangan di bursa global mengalami kenaikan pada harga sahamnya, karena diharapkan dapat menikmati peningkatan konsumsi energi China untuk menjalankan industrinya.

Indeks Manufaktur China versi HSBC pada hari ini masih patut menjadi perhatian investor, setelah versi Pemerintah menunjukkan kenaikan dari periode sebelumnya, dan juga diatas estimasi. Selain keputusan suku bunga dan pernyataan ECB pada hari Kamis, data Non Farm Payroll Amerika pada akhir pekan juga patut menjadi perhatian investor.

Seperti yang telah diperkirakan sebelumnya, terjadi inflasi pada bulan Mei, mengingat akan datangnya bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri dimana sering terjadi lonjakan beberapa harga bahan pangan, hal ini pula yang membuat impor beberapa komoditas pangan mengalami kenaikan untuk mengamankan stok menjelang Lebaran, sehingga turut menyumbang pada tingginya nilai impor, yang berakibat pada kembali defisitnya neraca perdagangan. Impor BBM juga biasanya meningkat menjelang musim mudik Lebaran.

Secara teknikal IHSG kembali rebound ke level 4900 setelah sempat menyentuh level support MA50 dilevel 4875. namun Indikator Stochastic masih bergerak bearish diarea moderate dan Momentum RSI yang terkonsolidasi pada area tengah osilator. Dilihat dari tingkat volatilitas IHSG sendiri telah memasuki lower band dengan indikasi akan melanjutkan penguatan hingga upper band. Diperkirakan IHSG bergerak mixed cenderung melanjutkan penguatan dengan range pergerakan 4900-4985. Saham - saham yang dapat diperhatikan antara lain AKRA, APLN, ASII, MTLA.

0 comments:

Post a Comment

 
Terasbursa.com © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top