Mengkonsolidasikan pergerakan naiknya belakangan ini, indeks saham di Asia bergerak mixed di dorong oleh kekhawatiran atas imbal hasil (yield) obligasi global dan data pertumbuhan ekonomi AS. 

Harga obligasi global melonjak sehingga mendorong imbal hasil (yield) ke tingkat terendah dalam beberapa bulan di picu oleh ekspektasi bahwa bank sentral Eropa (ECB) akan memperkenalkan langkah stimulus tambahan pada pertemuan mereka bulan depan.

Di tambah lagi, berkembangnya pandangan bahwa Federal Reserve tidak akan terburu buru menaikkan suku bunga meskipun proses pengurangan (tapering) program pembelian obligasi (Quantitative Easing) terus berlangsung.

Pada hari Rabu, imbal hasil (yield) dari obligasi Pemerintah AS bertenor 10 tahun anjlok dari 2.52% menjadi 2,43%, terendah sejak Juni 2013. Sebelumnya, obligasi bertenor 10 tahun Pemerintah Jerman (Bund) turun menjadi 1.285%, terendah dalam setahun terakhir menyusul kenaikan tidak terduga pada Tingkat Pengangguran Jerman serta deselerasi pada jumlah uang beredar di zona Euro.

IHSG naik 21.7 poin (0.44%) ke level 4985.6 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 bertambah 3 poin (0.35%) ke level 848.7. Investor asing membukukan Net Buy sebesar IDR114.5 miliar.

Indeks saham di Eropa berakhir datar (flat) menyusul rilis data pertumbuhan ekonomi AS dan karena investor menantikan kemungkinan perubahan kebijakan oleh bank sentral Eropa (ECB).

Volume perdagangan kecil karena bursa saham di Swiss, Swedia, dan Denmark tutup merayakan hari Kenaikan Yesus Kristus dan negara Eropa lainnya juga merayakan hari libur nasional.

Indeks saham utama di Wall Street mencatatkan kenaikan 5 hari beruntun dalam 6 hari terakhir seiring dengan yield obligasi Pemerintah AS yang bertahan di bawah 2.5% dan karena investor berkeyakinan ekonomi AS akan rebound dari kontraksinya yang pertama dalam 3 tahun.

GDP Kuartal I 2014 AS dilaporkan menciut 1% (Y/Y) akibat terganggunya aktifitas usaha dan lesunya sektor konstruksi akibat cuaca musim dingin yang ekstrim.

Pasar Amerika ditutup naik setelah data Klaim Pengangguran mencatatkan penurunan, dan juga dibawah estimasi. Menurunnya angka Preliminary GDP pada kuartal I juga dianggap masih dapat ditoleransi karena faktor cuaca buruk, dan menimbulkan ekspektasi akan adanya pemulihan pada periode selanjutnya. Sementara Pasar Eropa ditutup flat cenderung melemah karena investor masih cenderung menunggu hasil keputusan rapat ECB pekan depan. Data Indeks Manufaktur China pada akhir pekan masih dapat menjadi perhatian investor. Kenaikan harga beberapa bahan makanan menjelang bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri dikhawatirkan dapat menyebabkan kenaikan inflasi, namun komitmen Pemerintah melalui Menko Perekonomian Chairul Tandjung yang menyatakan siap untuk mengadakan operasi pasar untuk menstabilkan harga juga dapat menjadi sentimen positif akan stabilnya angka inflasi.

Secara teknikal IHSG kembali bergerak consolidasi tidak mampu lagi break out resistance 5000. Indikator RSI memberikan signal bearish momentum potential di osilator overbought sedangkan Indikator Stochastic yang tetap bergerak bullish dari area moderate. Volatility IHSG dari Indikator Bollinger bands telah mencapai middle upper band masih ada peluang untuk menguat namun terbatas. IHSG sedang bergerak membentuk corrections wave B. Diprediksikan IHSG masih akan bergerak mixed cenderung melemah dengan range pergerakan 4923 - 5000.

0 comments:

Post a Comment

 
Terasbursa.com © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top