Bursa saham Asia ditutup bervariasi pada akhir perdagangan Rabu. Bursa saham Thailand mengalami penguatan setelah tertekan sebelumnya yang disebabkan status darurat militer yang diberlakukan di sana. Panglima militer Thailand melakukan pertemuan dengan para politisi yang berseteru menghendaki ada pemilu tahun ini untuk mengakhiri krisis politik sejak November tahun 2013 laluBursa Tokyo dibanjiri aksi jual dimana pelemahan Nikkei dipicu oleh menguatnya mata uang Yen terhadap Dolar dan data neraca perdagangan Jepang bulan April masih mengalami defisit pada kisaran 808.9 milyar yen. Angka defisit ini lebih besar dibandingkan konsensus yang hanya memprediksi defisit sebesar 646 milyar yen.
Sementara itu, Bank of Japan (BoJ) merasa optimis terhadap prospek ekonomi Jepang, seiring adanya bukti roda perekonomian yang mampu menghadapi dampak kenaikan pajak penjualan, dengan menahan diri untuk melakukan tambahan stimulus moneter. Tetapi BoJ berjanji untuk mengkaji peningkatan monetary base nya dari 60 triliun ke 70 Trilun Yen (USD691 Miliar) per tahun, yang kemungkinan akan dirilis Juli mendatang dalam press conference sesuai pertemuan
Hingga minggu kedua bulan Mei Bank Indonesia (BI) Mencatat inflasi sebesar 0,08% . Penyebab inflasi masih berasal dari faktor harga pangan dan volitile food. Hingga akhir 2014 Bank Indonesia memperkirakan, inflasi akan berada pada level 4,5%.
IHSG berhasil ditutup menguat terbatas (0.29%) ke level 4910 setelah di sepanjang perdagangan kemarin berada di area negatif dan sempat menyentuh level terendah di 4868 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 naik 2.9 poin (0.35 %) ke level 835.3 dimana volume perdagangan tercatat sebesar IDR 5.8 triliun. Ini dibarengi dengan aksi jual investor asing ke dalam pasar saham domestik, dengan net sell sebesar IDR38.3 miliar.
Indeks saham di Eropa menguat setelah data Tingkat Kepercayaan Konsumen (Consumer Confidence) bulan Mei zona Euro naik ke level tertinggi dalam 6 tahun. Indeks saham utama di Wal Street mencatatkan kenaikan yang solid, dipimpin oleh saham sektor Consumer dan energi.
Pasar Eropa dan Amerika ditutup naik kemarin, setelah FOMC Minutes mengungkapkan adanya usaha The Fed untuk melakukan normalisasi suku bunga, sehingga menghilangkan kekhawatiran akan adanya kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Tidak ada data ekonomi yang cukup signifikan mempengaruhi pergerakan pasar global kemarin namun rilis data Flash Manufacturing Index China versi HSBC hari ini masih dapat menjadi perhatian investor. Menko Ekonomi Chairul Tandjung memprediksi bulan Mei masih ada kemungkinan terjadi deflasi. Namun BI memprediksi akan terjadi inflasi dibawah 0,2%, dengan trend yang cenderung turun. Hal ini cukup positif dalam menyambut bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri dimana biasanya terjadi inflasi yang cukup tinggi.
Secara teknikal IHSG berhasil false break bullish trend line dan mencoba rebound. Indikator Stochastic yang masih bergerak bearish mencapai area near oversold dan Indikator RSI yang memiliki momentum yang terkonsolidasi pada area moderate. Dari tingkat volatilitas harga sendiri IHSG masih dalam keadaan bearish dan berada pada middle lower bands sehingga peluang penurunan masih besar. Diprediksikan IHSG akan bergerak mixed cenderung melemah pada range 4820-4920.
0 comments:
Post a Comment