Risk Appettite memudar di pasar finansial kemarin dengan melemahnya harga saham dan naiknya imbal hasil obligasi.

Indeks saham di Asia berakhir mixed karena ivestor masih menimbang perkembangan ketegangan antara Ukrania dan Rusia, musim laporan keuangan dan tanda tanda melambatnya pertumbuhan di China.

Fokus perhatiaan di Asia tertuju pada data yang memperlihatkan [ada bulan Maret uang beredar (Money Supply) China tumbuh dengan laju terlemah salam kurun waktu lebih dari satu dekade, satu lagi bukti melemahnya momentum pada ekonomi terbesar kedua di dunia.

Kewaspadaan juga meningkat menjelang rilis sejumlah data penting ekonomi China [ada hari Rabu yang melipiti data GDP Kuartal I, Penjualan Ritel bulan Maret, Industrial Output dan Fixed Asset Investment.

IHSG naik tipis 5.3 poin (0.11%) ke level 4870.2  sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 hampir tidak berubah dan bertahan di level 823. Investor asing mencatatkan Net Buy sebesar IDR 590.5 miliar.

Indeks saham di Eropa turun, dengan laju penurunan yang semakin cepat menyusul berita bahwa krisis di Ukrania semakin parah.

Krisis di Ukraania taampaak mulai mengikis kepercayaan investor pada Jerman, ekonomi terbesar di Eropa. Data ZEW Expectation Index untuk bulan April berada di level 43.2, turun dari 46.6 di bulan Maret dan menandakan penurunan selama 4 bulan beruntun.

Indeks saham utama di AS berbalik arah menjadi positif, dengan indeks NASDAQ mencatatkan rebound terbesar dalam 5 tahun, karena investor menimbang laporan keuangan yang solid dari komponen indeks DJIA seperti Coca-Cola dan Johnson&Johnson terhadap data Home Price Index dan Empire State Manufacturing Index yang keluar mengecewakan serta, pada saat yang sama memonitor perkembangan krisis di Ukrania.

IHSG diprediksi akan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah. Sentimen global secara umum juga relatif mixed, bursa AS ditutup menguat kemarin, setelah data Core CPI Amerika bertumbuh di atas estimasi. Namun, ketegangan yang terjadi di Ukraina terpantau masih terjadi campur tangan militer Russia dan memberikan sentimen negatif bagi bursa Eropa. Di samping itu, GDP China diestimasikan akan mengalami penurunan, tetapi Industrial Production dan Retail Sales diprediksi akan mengalami peningkatan.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) memproyeksikan suku bunga kredit bakal beringsut naik pada kuartal II-2014.

Secara teknikal IHSG terkonsolidasi setelah berhasil golden-cross MA7 dengan Indikator Stochastic golden-cross terlalu cepat di area moderate dan Indikator RSI yang memberikan signal kejenuhan pada bullish momentumnya. Dari pergerakan wave IHSG telah berhasil mencapai target ideal corrections wave B hal tersebut membuka peluang IHSG akan terjadi koreksi dan akan mulai membentuk corrections wave c yang merupakan corrections wave terakhir dari elliot wave pada level 4690 hingga 4600. Diprediksikan IHSG akan cenderung bergerak melemah diwarnai aksi profit taking dengan range 4858 - 4906.

0 comments:

Post a Comment

 
Terasbursa.com © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top