Indeks saham di Asia naik, dengan indeks saham di Jepang, Australia dan Korea Selatan mencapai level tertinggi dalam dalam beberapa minggu terakhir, karena investor memilih untuk bersikap positif menghadapi berbagai data ekonomi global yang keluar beragam.

Bahkan kelesuan ekonomi di China pun sekarang di anggap sebagi sesuatu yang bagus karena akan menambah alasan bagi keluarnya stimulus, dan ada sinyal Beijing bergegas menyiapkan belanja infrastruktur sebagai respon dari melambatnya laju roda perekonomian.

Shanghai Securities News melaporkan bahwa pejabat di Hangzou dan Changsa sedang mempertimbangkan cara untuk melonggarkan pembatasan pembelian properti. Secara terpisah, 2 survei yang di rilis hari Selasa memperlihatkan bahwa lonjakan harga rumah terus melambat di bulan Maret.

Perdagangan berjalan penuh kehati-hatian menjelang pertemuan kebijakan bank sentral Rtopa (ECB) hari Kamis dan rilis data pasar tenaga kerja AS Jumat babti, yang mana kedua data ini dapat mempengaruhi pergerakan pasar global.

IHSG mundur 3.7 poin (-0.08%) dan di tutup di level 4870.2 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 turun tipis 0.1 poin (-0.02%) dan tetap di level 824.

Indeks saham di Eropa menguat  setelah data pasar tenaga kerja AS membantu meningkatkan sentimen positif dan karena investor masih memperhatikan kemungkinan keluarnya kebijakan stimulus bari oleh bank sentral Eropa (ECB).

Sementara itu, data Producer Price Index (PPI) zona Euro turun 0.2% di bulan Februari. Pengamat masih menimbang apakah ECB akan bertindak dalam memerangi inflasi yang lemah pada pertemuan hari Kamis nanti.

Indeks saham utama di AS berakhir di teritori positif selama 4 hari beruntun, dengan indeks S&P 500 menyentuh level tertinggi terbaru, karena investor mencerna serangkaian rilis data ekonomi. Data ADP Employment Report memperlihatkan sektor swasta di AS menambah hampir 200,000 tenaga kerja di bulan lalu, menambah tingkat kepercayaan atas pemulihan ekonomi dan mencairnya pasar tenaga kerja.

IHSG diperdiksi akan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah pada perdagangan hari ini. Sentimen negatif datang dari China, hutang China diprediksi bertumbuh lebih cepat dibandingkan dengan ekonominya hingga 2016. Rasio gabungan hutang pemerintah, korporasi dan rumah tangga dibanding GDP diprediksi akan mencapai 236,5% di 2016 dan akan mencapai puncak di 2018-2019. Hal ini patut diwaspadai mengingat bahwa di tahun 2014 China diprediksi akan mengalami perlambatan ekonomi. Beberapa data ekonomi penting yang akan dirilis hari ini seperti Trade Balance, Unemployment Claims, dan Indeks Non Manufaktur dari Amerika patut untuk dicermati investor.
Sedangkan dari dalam negeri, Menkeu mengkhawatirkan kuota BBM Bersubsidi yang bisa jebol, sehingga ada kemungkinan BBM akan dinaikkan tahun ini, sementara Gubernur BI memperkirakan defisit neraca transaksi dapat mencapai 3% pada tahun ini. Melihat hal tersebut, kami memprediksi BI rate relatif sulit untuk diturunkan dari level 7,50%.

Secara Teknikal IHSG gagal break out (False break) dengan resistance dilevel 4900 sehingga berpotensi akan membentuk pola double top yang merupakan indikasi negatif untuk pergerakan IHSG kedepannya. Indikator Stochastic, %K dan %D mulai bergerak jenuh dan menutup pergerakan bullish di area overbought sehingga berpotensi dead-cross bila IHSG kembali melemah. Indikator Bollinger bands, IHSG bergerak pullback pada upper band dengan potensi melemah menuju lower bands. Bila IHSG melanjutkan pelemahannya maka IHSG akan membentuk corrections wave terakhir yakni wave C dengan target ideal 4750. Diprediksikan IHSG akan bergerak mixed cenderung melemah melanjutkan aksi ambil untung dengan range pergerakan 4803-4900. Diharapkan para investor untuk mulai merealisasikan keuntungannya.

0 comments:

Post a Comment

 
Terasbursa.com © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top