Indeks saham di Asia berakhir mixed setelah data aktifitas sektor manufaktur China memberi gambaran yang beragam atas kondisi ekonomi terbesar kedua di dunia.
Data resmi Purchasing Managers’ Index (PMI) dari Pemerintah China naik ke level 50.3 di bulan Maret dari 50.2 di bulan Februari, sejalan dengan ekspektasi analis. Namun, angka ini masih tetap berada di bawah level 50. Secara terpisah, perhitungan akhir data PMI versi HSBC berada di level 48, sedikit lebih rendah dari perhitngan awal 48.1 yang dirilis minggu lalu.
Tankan Survey memperlihatkan sentimen usaha di kalangan korporasi besar Jepangmembaik di Kuartal I, tapi diperkirakan akan melemah di bulan bulan mendatang ditengah kekhawatiran bahwa kenaikan pajak penjualan akan mencederai pertumbuhan.
Indeks utama sentimen di antara perusahaan manufaktur besar berada di level +17 di bulan Maret,, naik dari level +16 pada bulan Desember.
IHSG terbang 105.7 poin (2.22%) dan di tutup di level 4873.9 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 meroket 24.7 poin (3.08%) ke level 824,2. Investor asing Jumat lalu mengguyur IDR1,87 triliun ke dalam pasar saham domestik.
Indeks saham di Eropa memulai Kuartak II dengan mencatatkan kenaikan setelah data memperlihatkan sektor manufaktur zona Euro tetap berada di jalur pemulihan.
Pemulihan sektor manufaktur zona Euro di bulan Maret menjadi lebih berimbang namun melambat karena perbaikan di sebagian besar negara Eropa dibayangi oleh penurunan kinerja manufaktur Jerman.
Indeks saham utama di AS ditutup naik tajam, dengan indeks S&P 500 mencatatkan rekor tertinggi. Investor memburu saham setelah data manufaktur AS keluar positif dan data penjualan mobil lebih baik dari ekspekrasi, sehingga mempertebal kepercayaan investor.
IHSG diprediksi akan bergerak mixed cenderung menguat pada perdagangan hari ini. Sentimen dari dalam negeri maupun luar negeri cenderung positif, bursa Amerika ditutup naik kemarin setelah Indeks Manufaktur (ISM Manufacturing PMI) menunjukkan kenaikan namun masih di bawah estimasi, sehingga The Fed diperkirakan masih akan melanjutkan program stimulusnya dan menunda kenaikan suku bunga acuan. Sedangkan dari China, sektor manufaktur mengalami pelemahan, sehingga banyak yang beranggapan hal itu akan kembali membuat pemerintah china untuk menaikan pengeluaran agar dapat mendorong pertumbuhan ekonominya.
Dari dalam negeri, inflasi cenderung melandai dari 0,26% di bulan Februari 2014 menjadi 0,08% di bulan Maret 2014. Serta, neraca perdagangan Indonesia kembali ke level positif dan mencatatkan surplus sebesar USD 790 juta dengan komposisi impor turun 9.98% dan ekspor turun sebesar 2.96%. Hal yang patut dicermati investor yaitu keputusan suku bunga BI pada 8 April mendatang, yang menurut konsensus diprediksi akan dipertahankan di level 7,50%.
Secara teknikal IHSG Gap up dan berhasil melampaui target correction wave B sehingga memberikan 2 kemungkinan yang akan terjadi. Kemungkinan pertama membentuk pola double top dilevel 4900 dan bila IHSG berhasil break out level 4900 maka IHSG akan membentuk extentions motif wave 5 dengan target ideal 5070. Kemungkinan kedua adalah peluang terjadinya koreksi melanjutkan corrections wave C dengan target 4750 hingga menutup gap yang terbentuk. Tetapi kemungkinan pertama mempunyai peluang yang kecil melihat momentum IHSG yang mulai memasuki area overbought oleh Indikator RSI dan William %R serta IHSG yang telah menyentuh Upper bands dan berkecenderungan akan pullback dari Indikator Bollinger Bands. Dari pendekatan oleh analisa teknikal tersebut, diprediksikan IHSG akan bergerak mixed dengan kecenderungan terkoreksi diwarnai aksi ambil untung dengan range pergerakan 4821 - 4900.
0 comments:
Post a Comment