Indeks saham di Asia mengambil sikap defensif dan mayoritas di tutup melemah mengikuti pergerkan indeks di Wall Street Senin malam dan setelah imbal hasil (yield) obligasi Pemerintah AS yang bertenor pendek naik ke tingkat tertinggi dalam 6 bulan. Penurunan indeks di batasi oleh harapan atas peluncuran paket stimulus ekonomi baru di China.Kekhawatiran atas Ukranua dan pelemahan data manufaktur AS juga diduga sebagai catalyst negatif bagi pasar, meskipun investor juga berkeyakinan aksi jual berhubungan dengan pencairan posisi (unwinding) menjelang berakhirnya Kuartal I 2014.
Walaupun kenaikan suku bunga di AS umumnya dipandang sebagai pengaruh negatif bagi emerging markets, kinerja beberapa pasar saham di emerging markets masih belum terpengaruh karena terkerek oleh ekspektasi Pemerintah china akan mengambil kebijakan stimulus pasca rilis data manufaktur China awal minggu ini.
IHSG tergelincir 17.3 poin (-0.37%) dan di tutup di level 4703.1 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 menyusut 4.1 poin (-0.52%) ke level 788. Investor asing membukukan Net Buy sebesar IDR325.8 miliar.
Indeks saham di Eropa rebound setelah data Consumer Confidence AS keluar lebih baik dari ekspektasi dan karena investor berspekulasi pelemahan serangkaian data ekonomi China belakangan ini akan mendorong Beijing mengambil langkah stimulus baru. Pelemahan data Business Confidence Jerman juga tidak menggerus sentimen positif di pasar.
Setelah turun selama 2 hari beruntun, indeks saham utama di AS rebound karena investor menyambut hangat data Consumer Confidence ubtuk bulan Maret yang mencapai level tertingi dalam 6 tahun.
Data pasar perumahan keluar sesuai dengan ekspektasi. Di tengah cuaca musim dingin yang ekstrim, harga rumah (Home Prices) di AS untuk bulan Januari masih turun, memperpanjang trend menjadi 3 bulan beruntun. Penjualan rumah baru (New Home Sales) di bulan Februari mencapai 440,000 secara tahunan, turun 3.3% dari penjualan di bulan Januari, yang juga merupkan level tertinggi dalam satu tahun terakhir.
IHSG diprediksi akan bergerak menguat pada perdagangan hari ini, menyusul sentimen positif dari bursa Amerika dan Eropa yang ditutup menguat pada perdagangan terakhirnya, setelah dirilisnya data Consumer Confidence Amerika kemarin menunjukkan kenaikan dari periode sebelumnya dan juga di atas ekspektasi. Penjualan rumah baru (New Home Sales) yang melemah dianggap sebagai hal yang biasa karena faktor cuaca buruk.
Sementara, data Unemployment Claims dan Pending Home Sales dari Amerika yang akan dirilis besok juga dapat dicermati investor.
Sedangkan dari dalam negeri, sentimen juga cenderung positif dengan diimplementasikannya pengalihan acuan dari non deliverable forward (NDF) menjadi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (IDR Jisdor). Selama ini NDF di Singapura dianggap sebagai sarang spekulan Rupiah sehingga membuat pergerakan Rupiah relatif volatile. Dengan adanya pengalihan acuan ini, maka volatilitas Rupiah diprediksi akan berkurang.
Bila dilihat dari teknikal IHSG terkonsolidasi dengan Indikator Stochastic yang telah berada pada area oversold dan berpotensi golden-cross. Momentum IHSG sendiri masih berada pada range 54.43 osilator dari Indikator RSI. Diprediksikan IHSG akan bergerak mixed mencoba kembali menguat dengan range pergerakan 4675-4722. Saham - saham yang dapat diperhatikan antara lain AKRA, ASII, BBRI, BMRI, INDF, JPFA, MAPI.
0 comments:
Post a Comment