Indeks saham di Asia turun tajam karena investor dikejutkan oleh defisit neraca perdagangan China pada saat masih mencemaskan krisis di Ukrania.
Risk aversion kembali timbul di kalangan para investor menyusul data perdagangan China yang di rilis akhir pekan lalu mengecewakan. Perhitungan terkini Gross Domestic Product (GDP) Jepang juga memperparah hantaman atas sentimrn investor di Asia.
Ekspor China anjlok 18.1% (Y/Y) sementara impor tumbuh 10.1% (Y/Y) sehingga menciptakan defisit neraca perdagangan $23 miliar di bulan Februari.
Ekonomi Jepang tumbuh 0.7% (Y/Y) di Kuartal IV 2013, di revisi turun dari perhitungan awal 1% akibat perlambatab belanja modal dan konsumsi rumah tangga.
IHSG terpangkas 8.6 poin (-0.18%) dan di tutup di level 4677.2 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 mundur 1.7 poin (-0.22%) ke level 785. Investor asing menarik IDR294.2 miliar keluar dari pasar saham domestik.
Indeks saham di Eropa melemah setelah pelemahan takm terduga pada data ekspor China memicu kekjawatiran mengenai ekonomi global dan menekan khususnya saham di sektor pertambangan.
Data Industrial Production Perancis memperlihatkan penurunan 0.2% di bulan Januari, sesuai dengan estimasi analis. Data Industrial Production Italia menunjukkan peningkatan 1.0% di bulan Januari, lebih tinggi dari estimasi kenaikan 0.4%.
Indeks saham utama di AS memperkecil penurunan namun secara umum masih berakhir di teritori negatif karena pelemahan data perfagangan China memicu kembali ketakutan atas perlambatan ekonomi global.
Dalam sebuah podato di Bank Of France, Presiden Federal Reserve bank di Philadelphia mengatakan bank sentral AS mungkin harus mempercepat proses penarikan stimulus moneter (tapering) mengingat sudah semakin baiknya kondisi kesehatan ekonomi AS.
IHSG hari ini diprediksi akan bergerak mixed dengan kecenderungan menguat. Sentimen positif datang dari dalam negeri, yang secara umum diakibatkan oleh fundamental Indonesia yang semakin membaik, BI memprediksi potensi pertumbuhan kredit diprediksi akan naik mencapai 19%, serta premi risiko investasi di Indonesia semakin menurun. Tercermin dari credit default swap (CDS) Indonesia tenor 10 tahun yang cenderung menurun. Di lain sisi, para ekonom juga sepakat mengestimasikan bahwa BI rate Maret 2014 akan bertahan di level 7,5%, serta tercapainya level ekuilibrium baru nilai tukar rupiah di Rp11.000/USD juga membuktikan bahwa fundamental Indonesia semakin menguat. Sedangkan dari luar negeri, Bank Dunia berencana mengucurkan bantuan pinjaman kepada Ukraina dengan nilai mencapai US$ 3 miliar pada tahun ini. Dana tersebut ditujukan untuk mendukung pemerintahan baru Ukraina di tengah krisis politik yang mendera.
Namun, menurunnya GDP Jepang dan defisit neraca perdagangan China berpotensi membawa sentimen negatif bagi IHSG.
Secara teknikal IHSG telah mengkonfirmasi pola candle bearish meeting line dan signal dead-cross dari stochastic dengan momentum RSI yang telah berada di area overbought. Diprediksikan IHSG akan bergerak mixed cenderung mengalami pelemahan dengan range 4658 - 4693. Bila IHSG menembus support level berpeluang bergerak melemah menuju 4616.
0 comments:
Post a Comment