Mayoritas indeks saham di Asia menguat di tengah kegelisahan terhadap pasar perumahan China.

Indeks saham di Asia mengikuti jejak langkah pergerakan indeks saham di Wall Street, di mana indeks S&P 500 mencatatkan rekor intraday tertinggi dan indeks NASDAQ mencapai puncak yang sempat di raih lebih dari 14 tahun yang lalu.

Perbaikan tak terduga pada data Sentimen Bisnis Jerman menambah rasa optimis atas pemulihan ekonomi zona Euro dan kenaikan satu tingkat rating kredit Spanyol oleh agen pemeringkat Moody’s juga turut menopang kinerja indeks saham di Asia.

Serangkaian data terkini ekonomi AS akhir-akhir ini keluar mengecewakan dan, sekali lagi, cuaca musim dingin yang ekstrim dituding menjadi kambing hitamnya. Investor justru lebih fokus pada serangkaian aktifitas Merger dan Akuisisi yang akan memeberi dana segar ke dalam pasar modal dan merupakan sinyal bahwa para pemimpin korporasi lebih merasa yakin atas prospek dunia usaha ke depan.

IHSG jatuh 46.3 poin (-1.00%) dan di tutup di level 4577.3 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 terpuruk 11.5 poin (-1.47%) ke level 768.2. Namun, investor asing masih tetap membukukan Net Buy, kali ini sebesar IDR58.3 miliar.

Indeks saham di Eropa berakhir mixed, dengan saham di sektor pertaambangan berada di bawah tekanan yang berasal dari kekhawatiran tentang China.

Komisi Eropa meproyeksilan ekonomi dari 18 negara pengguan mata uang Euro tumbuh 1.2% tahun ini dan 1.8% tahun depan, menyusul kontraksi selama 2 tahun beruntun. Gross Domestic Product (GDP) dari 28negara yang tergabung dalam Uni Eropa diprediksi tumbuh 1.5% tahun ini daan 2% tahun depan.

Indeks saham utama di AS turun karena investor menimbang arti dari pelemahan data harga rumah bulan Desember dan Consumer Confidence.

IHSG diprediksi akan melanjutkan pelemahannya pada perdagangan hari ini. Sentimen negatif datang dari AS, indeks kepercayaan konsumen menurun menjadi 78.1 di Februari 2014 dari 79.4 di bulan sebelumnya. Sementara itu, kondisi ekonomi dalam negeri cenderung masih fluktuatif. Masalah perbaikan ekspor yang tidak menentu dan defisit neraca transaksi berjalan masih menjadi masalah utama, meskipun sebagian pihak sepakat bahwa neraca dagang Januari 2014 akan surplus tipis. Namun, tanda pembaikan ekonomi adalah menguatnya nilai tukar Rupiah terhadap USD dan diharapkan hal ini mampu membawa sentimen positif bagi IHSG.

IHSG Mengkonfirmasi terjadinya pola Dark Cloud Cover dengan melemah menutup gap yang terbentuk 3 hari lalu sehingga peluang terjadinya revesal cukup tinggi dimana indikator stochastic yang terus berpotensi bergerak melemah dari area overbought dengan momentum RSI yang terus bergerak bearish momentum, Trend melemah / bearish trend yang cukup kuat diberikan oleh indikator Directional Movement Index dan memantulnya dengan Upper bands pada indikator bollinger bands menambah deretan signal negative. IHSG juga telah membentuk pola bearish AB=CD pattern dengan target pelemahan 4500 - 4430. Diprediksikan IHSG akan bergerak melanjutkan pelemahannya dengan range pergerakan 4549-4624.

0 comments:

Post a Comment

 
Terasbursa.com © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top