Indeks saham di Asia turun, membangkitkan kembali permintaan atas aset aset safe haven, terutama JPY seiring anjloknya saham sektor properti di China dan karena investor masig mencemaskan dampak dari penarikan stimulus oleh Federal Reserve.

Pertumbuhan harga rumah di berbagai kota besar China selama bulan Januari mencatatkan perlambatan untuk pertama kali dalam 14 bulan, meningkatkan kemungkinan koreksi pada penjualan rumah dan aktifitas konstruksi ke depan dan memicu kehawatiran  kondisi ekonomi yang semakin sulit di beberapa kuartal mendatang.

Harga rumah baru naik 9.6% (Y/Y) di bulan Januari, lebih rendah dari kenaikan 9.9% di bulan Desember. Data resmi yang di rilis hari Senin kemarin memperlihatkan harga rumah masih mengalami kenaikan di 69 dari 70 kota besar di China.

IHSG kehilangan 22.6 poin (-0.49%) dan di tutup di level 4623.6 semenatar indeks saham Blue Chip LQ-45 terpangkas 5.2 poin (-0.66%) ke level 779.7. Investor asing masih tetap membukukan Net Buy, kali nin sebesar IDR543.3 miliar.

Indeks saham di Eropa naik, di pimpin oleh indeks saham di Spanyol ayng melonjak setelah Moody’s mengupgrade kredit rating Spanyol. 

Tingkat kepercayaan pelaku usaha di Jerman tersu meningkat sekama 4 bulan, dengandata Ifo Business Climate Survey bulan Februari naik ke level 111.3 dari 110.6.

Data inflasi bulan Januari zona Euro juga mencuri perhatian dengan mengalami laju penurunan tercepat sejak 2001, menambah rasa takut melambatnya permintaan domestik di kawasan itu. Inflasi tahunan sebesar 0.8%, sedikit lebih tinggi dari estimasi 0.7%.

Indeks saham utama di AS rally karena investor mengantisipasi peningkatan aktivitas Mergers & Acquisitions (M&A) serta menyambut data Business Confidence Jerman dan pada saat yang sama terus mengabaikan data ekonomi yang terdistorsi oleh cuaca musim dingn yang ekstrim.

IHSG diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan hari ini. Sentimen negatif datang dari Eropa, inflasi Eropa pada Januari 2014 minus 1,1%, atau lebih rendah dibanding bulan sebelumnya, yakni 0,3%. Rendahnya inflasi menimbulkan kekhawatiran terjadi deflasi. Namun, pelemahan euro tidak dalam, berkat upaya Bank Sentral Eropa (ECB) meredam kekhawatiran pasar. Sementara itu, harga minyak dunia yang menurun berpotensi membawa sentimen positif bagi IHSG.

Secara teknikal IHSG membentuk pola Dark Cloud Cover yang merupakan signal reversal / pembalikan arah trend mengikuti pola bearish AB=CD. Stochastic memperlihatkan dead-cross yang cukup valid diarea overbought dengan momentum yang telah berada diarea overbought oleh indikator RSI dan ROC. Directional Movement Index dengan DI+ dan DI- yang bergerak jenuh setelah membuat gap yang cukup lebar mengindikasikan terjadinya penyempitan ruang gerak bullish. Diprediksikan IHSG bergerak fluktuatif cenderung melemah dengan range pergerakan pada 4567-4652.

0 comments:

Post a Comment

 
Terasbursa.com © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top