Mayoritas indeks saham di Asia turun setelah perhitungan awal (preliminary) aktifitas sektor manufaktur China di bulan Februari melambat ke level terendah dalam 7 bulan terakhir.
Data HSBC China Flash Manufacturing PMI untuk bulan Februari turun ke level 48.3 dari perhitungan akhir (final) 49.5 di bulan Januari, menambah bukti bahwa ekonomi China mungkin menghadapi perlambatan.
Jepang menderita defisit perdagangan di bulan Januari seiring pertumbuhan ekspor yang dipicu pelemahan nilai tukar JPY di taklukkan oleh lonjakan nilai impor, meningkatkan keraguan atas strategi PM Shinzo Abe untuk membangkitkan ekonomi.
Ekspor tumbuh 9.5% di bulan Januari, meskipun pertumbuhan melambat selama 3 bulan beruntun dengan dampak depresiasi nilai tukar JPY yang dikalahkan oleh kenaikan substansial pada biaya impor.
Defisit Neraca perdagangan mencapai JPY2.79 triliun (US$27.3 miliar) di bulan Januari, menciptakan rekor defisit selama 19 bulan beruntun karena impor membengkak 25%.
IHSG naik tipis 5.6 poin (0.12%) dan di tutup di level 4598.2 dengan Market Breadth yang negatif karena jumlah saham turun lebih banyak dari jumlah saham naik. Indeks saham Blue Chip LQ-45 bertambah 2.9 poin (0.37%) ke level 776.4. Investor asing membukukan Net Buy spektakuler IDR998.1 miliar.
Indeks saham di Eropa berakhir datar (flat) dengan sentimen tetap rapuh setelah data ekonomi China dan perancis yang mengecewakan, meskipun indeks memperkecil penurunan pada siang hari di dorong oleh data manufaktur AS.
Data Flash manifacturing PMI AS naik ke level 56.7 di bulan Februari, tertinggi dalam 4 tahun, dari 53.7 di bulan Januari.
Indeks saham utama di AS mencatatkan kenaikan yang solid, mengikis penurunan yang di picu oleh kekecewaan dari data Philadelphia Fed Survey dan data manufaktur di China dan Eropa.
IHSG diprediksi akan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah pada perdagangan hari ini. Menurunnya HSBC China Flash Manufacturing PMI untuk bulan Februari ke level 48.3 seakan menguatkan prediksi bahwa ekonomi China mengalami perlambatan. Dari dalam negeri, data BI menyebutkan bahwa kemampuan membayar utang luar negeri Indonesia melemah karena pertumbuhan utang melaju lebih kencang daripada kecepatan penyempitan defisit neraca berjalan pada 4Q13. Hal ini tercermin dari rasio pembayaran utang luar negeri terhadap penerimaan transaksi berjalan (debt to service ratio/DSR) 4Q13 yang meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya.
Sementara itu, dari AS, DJIA ditutup menguat +0.58% ke 16,133.23 dan S&P500 ditutup menguat +0.60% ke 1,839.78. Adanya aksi akuisisi WhatsApp oleh Facebook membuat bursa saham di AS menguat.
Secara teknikal bergerak terkonsolidasi dengan stochastic yang berpotensi dead-cross di area jenuh beli (Overbought) dengan momentum RSI dan William %R yang berpotensi memberikan signal bearish reversal momentum. Pergerakan IHSG masih terus membentuk pola bearish AB=CD pattern yang merupakan pola pembalikan arah. Diprediksikan IHSG akan bergerak mixed cenderung melemah dengan support resistance 4559-4614.
0 comments:
Post a Comment