Mayoritas indeks saham di Asia melemah setelah data inflasi bulan Desember China turun ke level terendah dalam 7 bulan.
Consumer Price Index (CPI) China melambat menjadi 2.5% di bulan Desember dari 3% di bulan November sementara Producer Price Index (PPI) turun 1.4% (Y/Y), penurunan ke 22 secara beruntun, di dorong oleh oversupply di satu sisi dan lemahnya permintaan di sisi lain.
Bank Of Korea (BOK) mempertahankan suku bunga acuan di 2.5% atau tidak berubah selama 8 bulan beruntun, dengan alasan ketangguhan kinerja ekonomi Korea Selatan di tengah pelemahan nilai tukar JPY yang mengancam sejumlah industri yang bersaing dengan perusahaan Jepang.
BOK juga mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi 3.8% di 2014 dan sedikit menurunkan proyeksi inflasi menjadi 2.3% dari peoyeksi 2.5% yang dibuat Oktober tahun lalu.
Menyusul pertumbuhan 0.5% (Oktober) dan 0.9% (September), Penjualan Ritel bulan November Australia tumbuh 0.7%, lebih baik dari ekspektasi, di dorong oleh penjualan di kafe, restauran dan pembelian makanan jadi, menambah bukti bahwa rezim suku bunga rendah mendongkrak belanja konsumen.
IHSG berakhir flat, hanya naik 0.6 poin (0.01%) dan di tutup di level 4201.2 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 tergerus 0.3 poin (-0.05%) ke level 698.6. Investor asing membukukan Net Buy sebesar IDR131.3 miliar.
Indeks saham di Eropa melemah setelah vansk sentral Eropa (ECB) dan Bank Of England (BOE) mempertahankan suku bunga acuan di level yang super rendah, dengan fokus investor lebih tertuju pada konferensi pers Presiden ECB Mario Draghi setelah pengumuman suku bunga.
Meskipun banyak pihak berharap Draghi akan memberi indikasi akan adanya stimulus setelah rilis data inflasi zona Euro beberapa hari lalu, namun Draghi kukuh berkeyakinan risiko deflasi sangat kecil.
Indeks saham utama di Wall Street berakhir mixed karena investor enggan mengambil posisi dalam jumlah besar menjelang rilis data Non-farm Payrolls di tambah lagi dengan tibanya musim laporan keuangan (earnings season) dan di mulainya penarikan stimulus (tapering) oleh Federal Reserve.
Keputusan BI untuk mempertahankan BI rate pada level 7,5% diprediksi akan membawa dampak positif pada IHSG hari ini. Kebijakan BI ini sesuai dengan ekspektasi pasar dan diharapkan mampu membawa pertumbuhan bagi sektor riil. Sentimen positif dalam negeri lainnya yaitu menyusutnya current account defisit (CAD) pada kuartal IV 2013 sehingga Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) periode tersebut bakal surplus. Surplus tersebut terjadi karena adanya capital inflow dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan hal ini membuat cadangan devisa Indonesia mengalami kenaikan sebesar USD 2,4 miliar pada bulan Desember.
Dari luar negeri, defisit anggaran AS yang diprediksi akan turun pada Q1 2014 dan menguatnya ekspor pada periode November 2013 menandakan bahwa perekonomian negeri Paman Sam tersebut semakin membaik. Hal ini bisa berdampak pada pengurangan stimulus ke depannya, serta berpotensi akan mengakibatkan capital outflow dana asing dari negara berkembang seperti Indonesia ke AS.
Secara Teknikal masih mampu bertahan pada support kuat dilevel 4200. Range pergerakan IHSG berada pada kisaran 4188-4230 Saham - saham yang dapat diperhatikan antara lain BBCA, CPIN, PGAS, SMCB, SMRA.
0 comments:
Post a Comment