Indeks saham di Asia turun akhir pekan lalu karena aksi jual di Wall Street membayangi data perdagangan China yang membaik dan karena investor menunggu rilis data Non-Farm Payrolls AS yang dapat memberi petunjuk kapan Federal Reserve akan menarik stimulus.
Ekspor China di bulan Oktober kembali ke jalur pertumbuhan sementara impor mengalami akselerasi, menambah bukti pemulihan yang perlahan lahan pada ekonomi terbesar kedua di dunia. Ekspor tumbuh 5.6% (Y/Y) menjadi $185.4 miliar bulan lalu.
Pertumbuhan ini akan meredam kekhawatiran atas pemulihan ekonomi yang tidak stabil setelah ekspor bulan sebelumnya secara mengejutkan ciut 0.3% akibat pelemahan permintaan global.
Impor ekspansi 7.6% menjadi $154.3 miliar bulan lalu, lebih tinggi dari pertumbuhan 7.4% di bulan September. Surplus Neraca Perdagangan China membengkak menjadi $31.1 miliar dari $15.2 miliar pada bulan sebelumnya.
IHSG turun 9.4 poin (-0.21%) dan di tutup di level 4476.7 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 mundur 2.7 poin (-0.35%) ke level 749.6. Secara mingguan, IHSG dan LQ-45 masing masing naik 44.1 poin (1%) dan 10.3 poin (1.39%). Investor asing Jumat lalu menarik IDR268.1 miliar keluar dari pasar saham domestik, mendorong total Net Sell asing minggu lalu menjadi IDR1.15 triliun.
Indeks saham di Eropa turun setelah data pasar tenaga kerja AS yang solid memicu ketakutan terhadap penarikan stimulus (tapering) dan setelah agen pemeringkat Standard & Poor’s menurunkan rating kredit Perancis menjadi AA dari AA+, dengan alasan reformasi yang sudah dilakukan di bidang perpajakan, ketenagakerjaan serta bidang lain, tidak akan menaikkan outlook jangka menengah.
Indeks saham utama di Wall Street menguat setelah data Non-Farm Payrolls yang lebih baik dari estimasi menumbuhkan optimisme bahwa ekonomi AS cukup kuat untuk menghadapi pengurangan stimulus moneter. Ekonomi AS menambah 204.000 kesempatan kerja di bulan Oktober, dua kali lipat prediksi pasar meskipun terjadi penghentian roda pemerintahan. Tingkat Pengangguran justru naik menjadi 7.3% dari 7.2%.
IHSG berpeluang menguat hari ini dengan sentimen positif yang datang dari luar negeri di antaranya dari China di mana industrial output tumbuh di atas estimasi pada level 10.3%, sementara itu data-data ketenagakerjaan Amerika Serikat menunjukkan peningkatan jumlah tenaga kerja yang terserap oleh lapangan pekerjaan di bulan Oktober sebanyak 204.000 pekerja. Hal tersebut menujukkan perekonomian Amerika Serikat berhasil melewati government shutdown dengan baik.
Meskipun data-data ketenagakerjaan cenderung positif, ekonom tetap memperkirakan the Fed akan melakukan tapering pada bulan Maret tahun depan.
Secara teknikal IHSG berada pada fase konsolidasi, investor disarankan memperhatikan sinyal reversal yang disertai konfirmasi pembalikan arahnya. Stochastic berada pada bullish momentum dengan upside potential yang cukup besar. Range support resistance pada 4457-4568, dengan rekomendasi buy untuk PTBA, speculative buy untuk GGRM, GJTL, dan trading buy untuk SMGR.
0 comments:
Post a Comment