Indeks saham di Asia turun di dorong oleh pertumbuhan pada pasar tenaga kerja AS yang meningkatkan kekhawatiran Federal Reserve akan bisa menarik stimulus moneter mulai bulan depan sehingga mendongkrak nilai tukar USD menguat terhadap Euro. JPY dan mata uang negara berkembang (emerging markets).

Data yang dirilis Senin pagi memperlihatkan surplus neraca berjalan Jepang secara tak terduga tumbuh 14.3% di bulan September, terbesar sejak bulan April seiring pelemahan nilai tukar JPY yang meningkatkan nilai dari pendapatan investasi di luar negeri.

Akhir pekan lalu, dilaporkan bahwa inflasi tahunan China tumbuh 3.2% di bulan Oktober, tertinggi dalam 8 bulan, memicu kekhawatiran pasar berkaitan dengan pengetatan kebijakan. Sementara itu, pada bulan yang sama, Industrial Production China tumbuh 10.3% (Y/Y), memberi yanda kestabilan pafa ekonomi terbesar kedua di dunia.

Data data ini menyusul lonjakan data ekspor China yang di rilis 8 November lalu dan semakin melengkapi gambar dari sebuah ekonomi yang semakin kokoh.

IHSG tersandung 35 poin (-0.78%) dan di tutup di level 4441.7 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 kehilangan 6.4 poin (-0.86%) ke level 743.1. Investor asing menarik IDR869.4 miliar keluar dari pasar saham domestik.

Indeks saham di Eropa menguat karena investor menyambut baik data Industrial Production China yang melebihi ekspektasi dan fokus pada berita spesifik menyangkut emiten.

Menteri Keuangan Prrancis Pierre Moscovici mengatakan mendapatkan rating triple A bukanlah sebuah prioritas. Beliau berpendapat reaksi pasar masih menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi atas kebijakan Pemerintah meskipun agen pemeringkat Standard & Poor’s Jumat lalu menurunkan rating kredit Perancis menjadi AA 

Indeks saham utama di Wall Street merangkak naik dengan DJIA mencatatkan rekor penutupan tertinggi yang ke 35 di tahun ini, seiring dengan bersiapnya investor menyambut laporan keuangan dari sejumlah peritel besar seperti Macy’s dan Wal-Mart sehingga dapat membentuk penilaian yang lebih baik terhadap belanja konsumen.

IHSG diprediksi akan banyak dipengaruhi oleh penantian pasar akan kebijkan Bank Indonesia sehubungan dengan BI rate hari ini. Bank Indonesia telah mengindikasikan akan melanjutkan kebijakan moneter ketat yang berpotensi meningkatkan level BI rate mengingat angka inflasi yang masih cukup tinggi.

Akan tetapi di sisi lain, kenaikan BI rate dapat menyebabkan kontraksi pada pertumbuhan ekonomi yang akan berdampak negatif terhadap bottom line dari emiten-emiten yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Secara teknikal IHSG masih berada pada fase konsolidasi dengan indikator stochastic masih berada pada bullish momentum, sedangkan ADX mengindikasikan pergerakan cenderung flat. IHSG cenderung bergerak mixed pada range support resistance 4457-4568, dengan rekomendasi partial sell untuk AALI, INCO, speculative buy untuk BWPT, trading buy untuk RALS.

0 comments:

Post a Comment

 
Terasbursa.com © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top