Mayoritas indeks saham di Asia melemah karena investor menunggu data Non-Farm Payrolls yang berkaitan erat dengan keberlangsungan stimulus moneter di AS, meskipun nilai tukar Euro menguat menjelang pertemuan kebijakan bank sentral Eropa (ECB).
Investor enggan mengambil posisi menjelang rilis data estimasi awal pertumbuhan ekonomi AS di Kuartal III pada Kamis malam dan rilis data pasar tenaga kerja AS pada hari Jumat.
Kedua data ini dapat memberi sinyal berapa lama lagi Federal Reserve alam terus membeli obligasi senilai $85 miliar per bulan. Program pembelian obligasi ini telah berhasil menahan kenaikan suku bunga, menekan imbal hasil (yield) obligasi dan membuat saham menjadi lebih atraktif bagi investor.
Ekspektasi pasar semakin besar bahwa bank sentral Eropa (ECB) dan Bank Of England akan memberi keputusan yang mengecewakan dengan tidak memangkas suku bunga acuan demi menopang pemulihan ekonomi di zona Euro agar tidak kembali jatuh ke dalam resesi.
Dari Asia sendiri, Tingkat Pengangguran Australia masih sebesar 5.7% di bulan Oktober, atau tidak berubah dari bulan sebelumnya. Jumlah orang yang mempunyai pekerjaan hanya bertambah 1.100, jauh lebih rendah dari ekspektasi 7.500 pekerja baru.
Bergerak melawan arah, IHSG maju 36.3 poin (0.82%) dan di tutup di level 4486.1 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 melompat 8.1 poin (1.09%) ke level 752.2.
Indeks saham di Eropa berakhir datar (flat) setelah meredanya euforia dari penurunan suku bunga yang terduga oleh bank sentral Eropa (ECB) karena investor mulai mempertanyakan alasan dibalik langkah ECB ini.
Sata pertumbuhan ekonomi AS yang lebih baik dari ekspektasi juga memicu ketakutan Federal Reserve akan mulai menarik program stimulus lebih cepat dari yang diharapkan.
Indeks saham utama di Wall Street turun akibat aksi ambil untung (profit taking) setelah indeks naik cukup tajam dalam beberapa minggu terakhir, dan mendorong DJIA berulang kali memecahkan rekor penutupan tertingginya.
Sentimen negatif terhadap IHSG datang dari luar negeri di mana indeks saham negara-negara Asia dibuka melemah sehubungan dengan spekulasi akan diberlakukannya tapering stimulus the Fed lebih awal setelah data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan pertumbuhan sebanyak 2.8% di triwukan ke tiga atau lebih tinggi dibandingkan pada triwulan ke dua.
Secara fundamental, kinerja keuangan emiten di triwulan ke tiga yang relatif mengecewakan menjadi pemberat bagi kenaikkan IHSG lebih jauh.
Meski demikian, secara IHSG masih memiliki peluang untuk menguat setelah kemarin menembus resistancenya. Indikator stochastic membentuk pola golden cross di sekitar area oversold sehingga memberikan momentum penguatan yang cukup besar. Support resistance IHSG berada pada level 4457-4568, dengan rekomendasi buy untuk INCO, PTBA dan speculative buy untuk INDF, BSDE.
0 comments:
Post a Comment