Perbaikan data manufaktur China tidak mampu mengangkat indeks saham di Asia seiring masih tingginya kekhawatiran mengenai kondisi moneter yang lebih ketat dapat menekan pertumbuhan ekonomi China.

Data HSBC Flash Manufacturing Purchasing Managers’ Index (PMI) bulan Oktober China berada di level 50.9, tertinggi dalam 7 bulan, naik dari 50.2 di bulan September, akibat kenaikan pesanan (order) baru.

Suku bunga Repo 7 hari kemarin dibuka langsung jadi 5% setelah bank sentral (PBoC) membiarkan dana mengalir keluar dari pasar uang sejak 2 minggu lalu. 

Sudah 3 hari ini PBoC menolak menyuntikkan dana dipicu ketakutan regulator bahwa likuiditas berlimpah mendorong pertumbuhan kredit yang berisiko dan memperparah laju kenaikan harga properti.

Sektor perbankan China telah menyalurkan kredit baru senilai 787 miliar yuan di bulan September, melebihi perkiraan yang hanya sebesar 650 miliar yuan sementara harga rumah di China selama bulan September tumbuh 9.1% (Y/Y), tercepat sejak Januari 2011.

IHSG naik 48.3 poin (1.06%) dan di tutup di level 4594.8 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 lompat 10.5 poin (1.38%) ke level 774.7. Investor asing membukukan Net Buy IDR154.9 miliar.

Indeks saham di Eropa menguat karena investor menyambut baik data manufaktur China dan laporan keuangan korporasi. 

Data Composite PMI bulan Oktober zona Euro turun ke level 51.5 dari 52.2 bulan lalu yang juga merupakan level tertinggi dalam27 bulan. Namun demikian data Composite PMI zona Euro masih memberi sinyal ekspansi meskipun sedikit melambat.

Indeks saham utama di Wall Street menguat karena investor menyambut baik sejumlah laporan keuangan, termasuk dari Ford, Apple dan Exxon Mobil, di tanbah lagi dengan data ekonomi China yang membaik.

Neraca perdagangan bulan Agustus AS naik tipis seiring melemahnya ekspor dan melambungnya harga impor BBM ke level tertinggi dalam setahun.

0 comments:

Post a Comment

 
Terasbursa.com © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top