Mayoritas indeks saham di Asia turun dipicu ketakutan kebijakan yang lebih ketat di China, sementara USD melemah setelah data pasar tenaga kerja AS tumbuh lebih lambat, mengikis ekspektasi Federal Reserve akan mengurangi program stimulus di tahun ini.
Kenaikan suku bunga di pasar uang China menambah keyakinan investor bahwa regulator di negara itu sedang bersiap mengetatkan likuiditas untuk memerangi tekanan inflasi.
Suku bunga acuan kontrak Repo 7 hari yang secara teratur mulai turun sejak 9 Oktober, tiba tiba melonjak hingga 4.5% Rabu pagi setelah bank sentral China (PBoC) sudah 2 hari beruntun menolak menyuntikkan dana ke pasar uang.
Inflasi di Australia tumbuh lebih cepat di Kuartal III, menambah jumlah negara di kawasan Asia Pasifik dengan tekanan tinggi inflasi yang dapat membatasi ruang bagi pembuat kebijakan untuk mengucurkan stimulus jika sewaktu waktu diperlukan. Inflasi Umum Australia di Kuartal III tumbuh 1.2%, naik dari 0.4% di Kuartal II, refleksi dari kenaikan tajam harga BBM.
Melawan arus pergerakan indeks regional, IHSG naik 33.8 poin (0.75%) dan di tutup di level 4546.5 dengan Market Breadth yang positif karena ada 2 yang naik untuk setiap saham yang turun. Indeks saham Blue Chip LQ-45 juga naik 0.75% atau 5.7 poin ke level 764.1. Investor asing membukukan Net Buy IDR972.3 miliar.
Indeks saham di Eropa turun karena investor mencerna laporan keuangan emiten dan berita berkaitan dengan stress test yang di lakukan oleh bank sentral Eropa (ECB) terhadap institusi finansial dalam zona Euro.
ECB akan mulai melakukan review mendalam pada Neraca dari 130 bank bulan November nanti untuk mencari potensi risiko sebelum melangkah lebih jauh dalam penyatuan sistem perbankan (banking union) di Eropa.
Indeks saham utama di Wall Street turun karena investor mencerna laporan keuangan emiten seperti Boeing dan Caterpillar. Sentimen investor juga tertekan oleh kekhawatiran semakin ketatnya kebijakan moneter di China dan seberapa kuat fundamental sektor perbankan Eropa.
Pergerakan IHSG diprediksi akan diwarnai oleh sentimen luar negeri di antaranya dari Bank-bank Sentral dunia yang secara bersamaan cenderung mengambil kebijakan moneter longgar, termasuk the Fed yang menunda tapering atas QE3 yang diprediksi baru akan diberlakukan tahun depan.
Dari China, 3 bank terbesar di negara tersebut menghapus bukukan bad loans 3 kali lebih banyak dari tahun sebelumnya. Hal ini menggambarkan ketidakstabilan sektor finansial di China, yang memperburuk fundamental negara tersebut di samping pertumbuhan ekonomi yang diprediksi akan berada di level 7.6% di 2013, pertumbuhan ekonomi tersebut terlambat sejak 1999.
Secara teknikal IHSG berada dalam fase konsolidasi dengan stochastic menunjukkan bearish momentum dengan indikasi 3 days downside potential. Range support-resistance 4457-4568, dengan rekomendasi partial sell untuk INCO, trading buy untuk ASII, LPKR, ASRI.

0 comments:
Post a Comment