Bertahan dari sentimen negatif yang menyelimuti pasar finansial di kawasan lain, indeks saham di Asia naik karena data ekonomi China yang keluar positif membayangi masalah kebuntuan pembahasan anggaran AS.
Aktifitas sektor Jasa (Services) China di bulan September mengalami laju ekspansi tercepat dalam 6 bulan seiring tumbuhnya permintaan, memperkuat perbaikan pada ekonomi terbesar kedua di dunia. Data resmi Services Purchasing Managers’ Index (PMI) China dari level 53.9 naik ke level 55.4 di bulan September, tertinggi sejak bulan Maret.
Moody’s Investors Service menjadi agen pemeringkat ketiga yang menaikkan rating kredit Filipina menjadi Investment Grade, dengan alasan pertumbuhan ekonomi yang pesat, stabilitas politik dan tata kelola yang lebih baik. Moody’s menaikkan rating kredit Filipina satu tingkat (notch) menjadi Ba3 dari Ba1 dengan outlokk Positif.
Bank Of Japan (BOJ) memulai 2 hari pertemuan kebijakan. Meskipun diyakini tidak ada pengumuman kebijakan penting, namun BOJ mungkin berada di bawah tekanan untuk menawarkan stimulus moneter lebih lanjut sebagai pelindung dari dampak kebijakan PM Shinzo Abe menaikkan pajak penjualan.
IHSG menguat 31 poin (0.71%) dan di tutup pada level 4418.6 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 maju 5.5 poin (0.76%) ke level 733. Investor asing menarik IDR9,8 miliar keluar dari pasar saham domestik.
Indeks saham di Eropa turun selama 2 hari beruntun karena kehawatiran atas pembekuan aktifitas Pemerintah AS mengimbangi sentimen positif dari data ekonomi chona dan Eropa.
Perhitungan akhir data PMI zona Euro untuk bulan September menunjukkan perbaikan kondisi bisnis, dengan naik ke level 52.2, tertinggi dalam 27 bulan, dari level 51.5 di bulan Agustus dan sedikit leboh baik dari perhitngan awal 52.1 yang di rilis minggu lalu.
Indeks saham utama di Wall Street melemah dengan DJAI tutup di bawah level psikologis 15000 seiring dengan penghentian aktifitas Pemerintah AS yang memasuki hari ketiga dan setelah Kementerian Keuangan AS memperingatkan gagal bayar (default) akan mendatangkan bencana besar bagi ekonomi AS.

0 comments:
Post a Comment