Asian Development Outlook 2013 Update, Oktober 2013
Asian Development Bank (ADB) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi negara berkembang di Asia, dengan alasan melemahnya 2 ekonomi terbesar di kawasan Asia, China dan India serta kekhawatiran atas rencana pengurangan stimulus moneter di AS yang dapat memicu gejolak di pasar finansial.
ADB memprediksi eknomi berkembang di Asia akan tumbuh 6% tahun ini, turun dari prediksi awal 6.6% yang di buat bulan April lalu.
ADB juga menurunkan proyeksi pertumbuhan 2014 menjadi 6.2% dari 6.7%.
ADB mengatakan pertumbuhan di China melambat setelah Pemerintah mengambil tindakan untuk mengerem pertumbuhan kredit dan industri shadow banking, bagian dari usaha untuk merubah orientasi pertumbuhan ekonomi dari sektor ekspor dan investasi menuju sektor konsumsi domestik yang lebih berkesinambungan.
Ekonomi China, terbesar kedua di dunia, sekarang di perkirakan tumbuh 7.6%, turun dari prediksi 8.2% awal tahun ini.
Di India, pertumbuhan melambat karena industri dan investasi terhalang oleh buruknya infrastruktur dan reformasi struktural yang sudah lama terabaikan, sehingga ADB memangkas pertumbuhan India menjadi 4.7% dari 6%.
ADB juga menurunkan proyeksi pertumbuhan kawasan Asia Tenggara akibat lesunya ekspor dan moderasi pada arus investasi di Indonesia, Thailand dan Malaysia meskipun pertumbuhan yang solid di Filipina akan dapat sedikit mengimbangi penurunan di Asia Tenggara.
International Energy Agency (IEA) mendesak negara negara di Asia Tenggara (ASEAN) untuk mengambil langkah serius memperbaiki energi efesiensi karena pertumbuhan pesat penggunaan energi telah membuat ASEAN menjadi sangat tergantung pada impor minyak dan pengurangan sirplus gas alam dan batubara untuk di ekspor.
IEA memproyeksikan permintaan energi Asia Tenggara naik lebih dari 80% hingga tahun 2035, kenaikan yang setara dengan permintaan energi Jepang saat ini.
Sekarang ini penggunaan energi per kapita di Asia Tenggara masih sangat rendah karena 134 juta penduduk atau 1/5 dari populasi belum mendapat penerangan listrik.
Ketergantungan yang semakin besar pada impor minyak akan membebani ekonomi Asia Tenggara dengan biaya tinggi, menjadikan ASEAN rentan terhadap potensi gangguan supply.
Pada tahun 2035, impor oil Asia Tenggara di proyeksikan naik menjadi sedikit is atas 5 juta barel per hari, menjadikan kawasan ini sebagai importir minyak ke empat terbesar di dunia setelah China, India dan Uni Eropa
Asia Tenggara akan mengalami penurunan pada surplus gas alam dan batubara untuk ekspor seiring semakin besarnya produksi yang di alihkan untuk pasar domestik.

0 comments:
Post a Comment