Indeks saham di Asia mempertahankan kenaikan setelah Kongres AS gagal mencapai kompromi atas UU APBN, memicu penghentian parsial aktifitas Pemerintah AS.
Pasar saham di China tutup hingga 7 Oktober merayakan hari libur Golden Week, namun tidak menghalangi Pemerintah merilis data resmi Purchasing Managers’ Index (PMI).
Data resmi Manufacturing PMI China naik tipis ke level 51.1 di bulan September dari level 51.0 di bulan Agustus, dengan perusahaan berskala kecil kesulitan menghadapi over kapasitas dan lemahnya permintaan, menambah kekhawatiran pemulihan yang baru berjalan akan terhenti.
Sentimen sektor manufaktur Jepang naik tajam di Kuartal yang berakhir September, mendekati level tertinggi dalam 6 tahun, memperkuat alasan bagi PM Shinzo Abe untuk melanjutkan rencana kenaikan pajak penjualan tahun depan.
Tankan Survey oleh Bank Of Japan memperlihatkan indeks utama sentimen pelaku perusahaan manufaktur besar naik ke level 12 di Kuartal III dari level 4 pada kuartal sebelumnya, jauh di atas ekspektasi analis yang memperkirakan kenaikan ke level 7.
IHSG rebound 29.7 poin (0.69%) dan di tutup pada level 4345.9 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 merangkak naik 9.3 poin (1.30%) ke level 722.2. Investor asing menarik IDR257.2 miliar keluar dari pasar saham domestik.
Indeks saham di Eropa naik meskipun investor sibuk menimbang konsekuensi dari penutupan aktifitas Pemerintahan di AS menjelang debat mengenai kenaikan batas utang (debt ceiling) negara itu.
Data Manufacturing PMI zona Euro mencatatkan ekspanasi selama 3 bulan beruntun di bulan September dengan berada di level 51.1, sama dengan perhitungan awal namun lebih rendah dari level 51.4 yang di capai pada bulan Agustus.
Indeks saham utama di Wall Street naik meskipun politisi di parlemen gagal meloloskan UU APBN untuk tahun fiskal terbaru sehingga memicu penutupan parsial aktifitas Pemerintahan di AS.

0 comments:
Post a Comment