Indeks saham di Asia naik, ditopang oleh data ekonomi yang solid di AS dan China serta pengambilan keputusan atas kebijakan moneter oleh bank sentral di Australia dan India.

Indeks saham di Asia terkerek oleh sentimen positif dari data ISM Manufacturing Index AS yang naik ke level 55.4 di bulan Mei dari 54.9 di bulan April. Data ini keluar seiring dengan data China yang juga memperlihatkan perbaikan.

Menyusul rilis data hari Minggu yang memperlihatkan aktifitas sektor manufaktur tumbuh pada laju tercepat dalam 5 bulan, rilis data hari Selasa memperlihatkan kinerja sektor Jasa (Services) yang di bulan Mei mencatatkan ekspansi tercepat dalam 6 bulan.

Seperti yang sudah diperkirakan, Reserve Bank of Australia (RBA) tidak merubah suku bunga acuan Cash rate pada tingkat 2.5%, mempeertegas komitmennya untuk menciptakan sebuah periode dimana suku bunga bergerak stabil.

Sementara itu, Reserve Bank of India (RBI) mempertahankan suku bunga acuan di tingkat 8%, dengan alasan kebijakan moneter yang lebih ketat tidak diperlukan jika ekonomi terus berada di jalur inflasi yang melambat (disinflasi).

IHSG naik 30.1 poin (0.61%) ke level 4942.2 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 bertambah 6.2 poin (0.75%) ke level 835.3. Investor asing menarik IDR251.3 miliar keluar dari pasar saham domestik.

Indeks saham di Eropa bergerak turun setelah data inflasi zona Euro memperkuat pandangan bahwa bank sentral Eropa (ECB) akan lebih memperlonggar kebijakan moneter. Namun pengamat memperingatkan bahwa prospek kebijakan moneter yang lebih longgar seharusnya sudah di priced-in oleh pelaku pasar.

Indeks saham utama di Wall Street berakhir di zona negatif karena investor tidak terlalu antusias terhadap data Factory Orders yang keluar sesuai ekspektasi dan data penjualan mobil yang melebihi estimasi.

Pasar Amerika dan Eropa ditutup turun kemarin setelah data Factory Orders Amerika mencatatkan penurunan dari periode sebelumnya, dan hanya sedikit lebih tinggi dari estimasi. Deflasi yang terjadi di Uni Eropa juga semakin membuat investor untuk cenderung wait and see menjelang pernyataan ECB besok.

Indeks Manufaktur China versi Final dari HSBC menunjukkan pertumbuhan yang cukup signifikan dari periode sebelumnya. Sementara itu investor kini menantikan data Non Farm Payroll Amerika pada akhir pekan.

Penurunan nilai ekspor dan kenaikan nilai impor sehingga menyebabkan neraca perdagangan mengalami defisit pada bulan April patut menjadi perhatian investor. Sementara Menkeu Chatib Basri dalam rangka pembahasan APBN Perubahan mengusulkan agar pemerintah baru yang akan terpilih nanti untuk berani mengurangi subsidi dan menaikkan harga BBM.

Secara teknikal IHSG bergerak terkonsolidaso dengan momentum stochastic dan RSI yang tidak terlalu bagus. Pergerakannya pada stochastic masih memberikan indikasi negative dengan bergerak bearish dengan momentum RSI yang juga cenderung jenuh diarea moderate osillator. Diprediksikan IHSG akan bergerak mixed cenderung menguat dengan range pergerakan 4915-4980. Saham - saham yang dapat diperhatikan antara lain. ANTM, ASRI, BMTR.

0 comments:

Post a Comment

 
Terasbursa.com © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top