Indeks saham di Asia tersandung akhir pekan lalu seiring dengan ketakutan atas krisis di Ukrania yang membayangi optimisme dari data ekonomi AS. Sentimen investor juga diperburuk oleh kinerja indeks saham China yang melemah dipicu oleh kehawatiran mengenai kondisi ekonomi China dan kesehatan dari sektor perbankan negara itu.
Militer Ukrania menewaskan 5 orang pemberontak pro Rusia hari Kamis lalu dan Rusia mengadakan latihan militer di dekat perbatasan dengan Ukrania, menyulut ketakutan tentara Ruisa akan melakukan invasi.
Data yang di rilis Jumat pagi memperlihatkan inflasi inti di Tokyo, indikator bagi inflasi nasional di Jepang, tumbuh 2.7% (Y/Y) di bulan April, sedikit dibawah prediksi. Ini adalah pertumbuhan tecepat sejak 1992 seiring dengan terdongkraknya harga pleh kenaikan pajak penjualan, meskipun jika disesuaikan dengan kenaikan pajak, inflasi hanya tumbuh 1%.
IHSG turun tipis 6.6 poin (0.13%) ke level 4897.6 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 berakhir hampir tidaak berubah dan masih bertahan di level 829. Secara mingguan, IHSG dan LQ-45 bergerak datar (flat). IHSG hanya bertambah 0.6 poin (0.01%) sementara LQ-45 menyusut 0.1 poin (-0.02%). Investor asing Jumat lalu menarik IDR16.8 miliar keluar dari pasar saham domestik, mengurangi total Net Buy asing minggu lalu menjadi IDR 1,8 triliun.
Kekhawatiran atas ketegangan antara Rusia-Ukrania menghapus optimisme yang berasal dari musim laporan keuangan, sehingga menambah tekanan pada pasar saham di Eropa.
Sebagai respon dari volatilitas yang dipicu oleh krisis, Standard & Poor’s memangkas kredit rating Rusia menjadi satu tingkat di atas Junk. Sementara bank sentral Rusia menaikkan suku bunga menjadi 7.5% karena semakin besarnya risiko inflasi melebihi target 5% di akhir tahun.
Indeks saham utama di AS turun karena investor mengikuti perkembangan krisis di Ukrania serta merespon laporan keuangan dari Ford Motor dan Amazon yang keluar mengecewakan.
IHSG diprediksi akan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah, karena dibayangi oleh aksi profit taking. Sentimen global dibayangi oleh memanasnya hubungan Ukraina-Rusia yang berpotensi mengakibatkan kenaikan harga minyak dunia dan Rusia juga berpotensi dikenakan sanksi baru. Dari dalam negeri, sentimen masih dipengaruhi dari koalisi parpol, sehingga investor masih cenderung wait and see hingga ada kepastian pengumuman capres-cawapres. Sementara itu, pertumbuhan penjualan sepeda motor pada tiga bulan pertama tahun ini mencatatkan pertumbuhan hanya 1,2% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan penjualan mobil mencatatkan hasil yang lebih baik yaitu 16,4%.
Data-data makro yang perlu dicermati investor pekan ini yaitu, GDP Inggris Q1, Kebijakan Suku Bunga dan keputusan Kebijakan Moneter Jepang, CPI Eropa, Kebijakan Suku Bunga The Fed, ISM Manufacturing PMI Amerika, dan Inflasi dan Neraca Perdagangan Indonesia.
Secara teknikal IHSG kembali bergerak terkonsolidasi mencoba break out resistance kuat di level 4900. Dengan Pergerakan yang cenderung negatif (bearish movement) pada indikator Stochastic dengan Momentum yang masih terus terkonsolidasi diarea overbought menandakan IHSG sudah cukup mahal dan saatnya mulai untuk phase koreksi. Posisi IHSG sendiri telah berada di upper band dan pada hari ini terjadi pull back sehingga memberikan signal cukup negatif. IHSG diprediksikan bergerak mixed cenderung melemah dengan range pergerakan 4862 - 4905.
0 comments:
Post a Comment