Indeks saham di Asia menguat setelah investor mengabaikan kekhawatiran mengenai kebijakan moneter Federal Reserve dan setelah perbaikan di sejumlah data ekonomi AS merestorasi tingkat kepercayaan atas pemulihan ekonomi AS. Perdagangan berjalan sepi seiring tutupnya bursa saham di Jepang memperingati hari Vernal Equinox.
Agen pemeringkat Fitch mempertegas rating kredit AAA Pemerintah AS dengan alasan konsolidasi fiskal yang kuat dan keuntungan memiliki mata uang yang diterima luas di seluruh dunia.
Fokus perhatian di Asia kembali tertuju pada mata uang Yuan, yang memperpanjang pelemahan, dengan People’s Bank Of China (PBOC) tampak puas dengan penurunan akhir akhir ini. Nilia tukar Yuan minggu lalu sudah turun lebih dari 1.2%, terbesar sejak 1992.
PBOC memilih melebarkan kisaran perdagangan Yuan karena risikonya lebih kecil dari opsi kebijakan yang lain sementara pada saat yang sama menawarkan perlindungan terhadap perlambatan ekonomi. Nilai tukar Yuan yang lemah akan membantu eksportir dan PBOC mempunyai kewenangan untuk mengendalikan nilai tukar Yuan untuk menghindari volatilitas yang berlebihan.
IHSG turun 1.2 poin (0.03%) dan di tutup di level 4700.2 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 merangkak naik 0.3 poin (0.04%) ke level 789. Secara mingguan, IHSG dan LQ-45 masing masing jatuh 178.4 poin (-3.66%) dan 41.6 poin (-5.01%). Investor asing Jumat lalu menarik IDR349.7 miliar keluar dari pasar saham domestik, memangkas total net Buy asing minggu lalu menjadi IDR3,2 triliun.
Mayoritas indeks saham di Eropa menguat dan mencatatkan kenaikan mingguan setelah data Consumer Confidence zona Euro naik ke level tertinggi dalam 6 tahun. Perhitungan awal (flash) data Consumer Confidence untuk bulan Maret naik ke level -9.3 dari -12.7, lebih baik dari ekspektasi -12.4 dan mencapai level tertinggi sejak 2007.
Indeks saham utama di AS menghapus kenaikan di awal sesi perdagangann dan berakhir turun akhir pekan lalu, namun masih mencatatkan kenaikan secara mingguan seiring meningkatnya volatilitas akibat berakhirnya sebagian besar instrumen derivatif, dalam hal ini opsi atas saham.
IHSG diprediksi akan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah. Sentimen pasar hari ini berpotensi dipengaruhi oleh dirilisnya data HSBC Manufacturing PMI China, German, Eropa zone dan US. Hasil konsensus menunjukkan data relatif stagnan, sehingga kami memprediksi investor akan cenderung berhati-hati dan memilih untuk wait and see. Pasar juga cenderung dipengaruhi oleh keputusan Gubernur The Fed Jenet Yellen minggu lalu mengenai keputusannya menaikkan bunga acuan mulai 2015, sehingga hal ini berpotensi membuat negara-negara berkembang seperti Indonesia mengalami penurunan likuiditas karena kenaikan biaya dana (cost of fund) USD berpotensi memicu pembalikan arus modal (sudden reversal) kembali ke AS. Untuk meredam dampak negatif tersebut, maka Pemerintah RI harus memperkuat fundamental ekonomi nasional, di antaranya dengan menurunkan defisit transaksi berjalan.
Secara teknikal IHSG membentuk pola bullish homing pigeon setelah berhasil mencapai dan memantul pada target corrections wave A dilevel 4663. Peluang berpotensi rebound pada perdagangan senin terlihat setelah pola positif tersebut terkonfirmasi. Namun untuk seminggu ini IHSG berpotensi melemah setelah membentuk pola Dark cloud cover yang dimana merupakan signal pembalikan arah. Diprediksikan pada hari senin IHSG akan bergerak menguat terbatas dengan range pergerakan 4660-4750. Saham - saham yang dapat diperhatikan ACES, AKRA, HRUM, INDF, ITMG, SMGR, GGRM, ROTI.
0 comments:
Post a Comment