Di picu oleh aksi jual, indeks saham di Asia menderita penurunan karena investor berusaha menimbang risiko suku bunga AS dapat naik lebih cepat dari perkiraan, memberi tekanan pada harga saham dan obligasi.
Imbal hasil (yield) dari obligasi Pemerintah AS bertenor pendek mengalami lompatan terbesar dalam hampir tiga tahun setelah ketua Federal Reserve Janet Yellen mengatakan program pembelian obligasi oleh bank sentral akan berakhir msuim gugur tahun ini dan suku bunga dapat mulai dinaikkan sekitar 6 bulan kemudian.
Kenaikan yield obligasi Pemerintah AS mengerek nilai tukar USD dan mendorong harga emas turun 1.8% menjadi $1,333 per ons. Selain itu, prospek kenaikan suku bunga di AS berdampak negatif bagi pasar negara berkembang (emerging markets) karena mengancam menarik dana keluar sehingga menambah tekanan pada nilai tukar mata uang negara berkembang (emerging markets).
Di tambah lagi, China sedang berusaha melemahkan nilai tukar Yuan sebagai cara untuk menopang ekonomi yang sedang melambat. Ini memberi motivasi bagi negara negara lain untuk membiarkan pelemahan nilai tukar uangnya untuk tetap bisa bersaing di pasar ekspor.
IHSG anjlok 122.5 poin (-2.54%) dan di tutup di level 4699 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 menukik ke bawah 26.6 poin (-3.27%) ke level 788.7. Investor asing menarik IDR537.6 miliar dari pasar saham domestik.
Indeks saham di Eropa menguat meskipun kekhawatiran atas berakhirnya era kebijakan moneter super longgar di AS dan ketegangan politik di Ukrania masih bertahan di pasar.
Indeks saham utama di AS menguat di dorong oleh perbaikan pada data ekonomi AS, sehingga dapat mengimbangi ketakutan atas kenaikan suku bunga yang lebih cepat dari ekspektasi pasar.
Data Leading Economic Indicator AS naik 0.5% bulan lalu, sinyal ekonomi AS akan terus membaik. Selain itu data Philadelphia Fed Survey naik ke level 9 di bulan Maret dari level -6.3 di bulan Februari. Secara terpisah, data Initial Jobless Claims memperlihatkan kenaikan sebesar 5,000 minggu lalu menjadi 320,000, lebih rendah dari estimasi analis yang sebesar 325,000.
IHSG diprediksi masih akan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah. Sentimen global cenderung negatif, faktor utamanya adalah pidato Gubernur The Fed, Jenet Yellen yang berencana akan menaikkan bunga acuan pada paruh kedua 2015 setelah mengakhiri program pembelian obligasi pada akhir tahun ini. Hal ini membuat shock pasar saham dan obligasi. Serta, Rupiah di pasar spot melemah menjadi Rp11.446 per USD. Sedangkan dari dalam negeri, BI memprediksi neraca pembayaran akan mengalami surplus US$ 760 juta dipicu oleh surplus neraca perdagangan nonmigas yang mencacat surplus hingga US$ 1,6 miliar. Hal ini diharapkan membawa sentimen positif bagi IHSG.
Secara teknikal IHSG bergerak melemah setelah sempat bertahan di area overbought, Indikator Stochastic IHSG bergerak bearish dengan diiringi momentum RSI yang cenderung negatif. Bila dilihat dari chart pattern IHSG sedang membentuk Corrections Wave A dan Bearish AB=CD pattern yang dimana pada hari kamis telah menembus support pertama dari target Bearish AB=CD pattern dan selanjutnya IHSG akan menguji level support target Corrections Wave A yang berada pada level 4663 Bila support ini tertembus akan menjadi signal bearish untuk IHSG dengan target selanjutnya pada level 4580 yang merupakan max bullish trendline. Diprediksikan IHSG akan bergerak melemah dengan range pergerakan 4657 - 4750. Disarankan kepada investor untuk wait and see terlebih dahulu.
0 comments:
Post a Comment