Indeks saham di Asia untuk sementara mengambil langkah maju dengan investor berharap bank sentral Eropa (ECB) dan rilis data pasar tenaga kerja AS dapat menenangkan pasar yang dihantam aksi jual dalam beberapa hari terakhir. 

Pada saat pelaku pasar memperkirakan ECB tidak melakukan sesuatu yang drastis pada pertemuan kebijakan Kamis malam, berkembang spekulasi ECN mungkin lebih melonggarkan kebijakan untuk memerangi ancaman deflasi menyusul data inflasi bulan lalu yang secara mengejutkan turun.

Dengan suku bunga acuan yang sudah berada di 0.25%, ruang untuk penurunan sudah sanagt terbatas. Namun ini tidak membuat spekulator berhenti berspekulasi suku bunga turun tipis 10-15 basis poin.

Paling minim, investor ingin Presiden ECB Mario Draghi memberi petunjuk kesediaan untuk melonggarkan kebijakan, yang dapat mengimbangi kekhawatiran atas penaruikan stimulus oleh Federal Reserve.

IHSG naik 40.4 poin (0.92%) ke level 4424.7 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 maju 8.8 poin (1.20%) ke level 742.8. Investor asing membukukan Net Buy sebesar IDR294.1 miliar.

Indeks saham di Eropa rally setelah Presiden bank sentral Eropa (ECB) Mario Draghi menegaskan bahwa ECB masih mempunyai bebbagai macam instrumen kebijakan untuk lebih melonggarkan kebijakan moneter jika memang di perlukan oleh kondisi ekonomi.

Bank Of England (BOE) mempertahankan suku bunga pada tingkat super rendah 0.5% sejak Maret 2009. Komite Kebijakan Moneter BOE juga tidak merubah besaran program pembelian aset, inti dari strategi Quantitaive Easing, pada nilai 375 miliar Poundsterling ($611 miliar).

Indeks saham utama di Wall Street naik tajam dengan indeks DJIA mencatatkan kinerja harian terbaik tahun ini seiring dengan pasar yang menyambut baik penurunan pada data Initial Jobless Claims sebagai indikasi membaiknya pasar tenaga kerja AS satu hari menjelang rilis data Non-Farm Payrolls dan Unemployment Rate. 

Keputusan ECB dan BoE untuk menahan suku bunga acuan berpotensi membawa angin segar bagi IHSG. Adanya tanda-tanda pemulihan ekonomi yang tampak dari data manufaktur menyebabkan ECB memprediksi bahwa inflasi akan naik secara bertahap ke angka 2%. Sementara itu, dari AS juga memberikan sentimen positif. Data initial jobless claims AS yang menurun mengindikasikan bahwa perekonomian negara semakin membaik. Serta, membesarnya defisit neraca perdagangan AS berpotensi membuat USD melemah, sehingga ada potensi penguatan Rupiah dalam jangka pendek ataupun menengah. DJIA ditutup menguat 1,20% di 15.628,53 atau penguatan terbesar dalam tahun ini dan S&P500 juga menguat 1,23% di 1.773,43 pada perdagangan terakhir.

IHSG melanjutkan pergerak bullish trend jangka menengah. Pada hari kamis lalu berhasil break out cloud dan resistance level dengan Indikator Stochastic yang terkonsolidasi bergerak bullish terbatas di level 60 osilator begitu juga dengan momentumnya pada Indikator RSI. Pada Indikator Alligator IHSG masih berpeluang menguat namun terbatas setelah bergasil break out pada lips line dengan accelerator yang bergerak positif dan mendekati Resistance fractal pada level 4432. IHSG diprediksikan akan bergerak kembali menguat terbatas rawan aksi profit taking di akhir pekan ini. support resistance IHSG berada pada kisaran 4398-4451 saham - saham yang dapat diperhatikan antara lain BMTR, CPIN, EXCL, INCO, JSMR, ADRO.

0 comments:

Post a Comment

 
Terasbursa.com © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top