Indeks saham di Asia terjun bebas seiring masih kuatnya tekanan atas emerging markets, dengan bank sentral AS bersiap melanjutkan penarikan stimulus serta pengetatan kondisi perkreditan di China membangkitkan ketakutan deselerasi pertumbuhan yang lebih cepat.
Investor juga menunggu hasil pertemuan 2 hari Federal Reserve yang di mulai hari Selasa dimana the Fed diperkirakan kembali mengurangi program bulanan pembelian obligasi sebesar US$10 triliun menjadi US$65 triliun. Gejolak di masing masing negara berkembang (emerging markets) seperti Argentina, Thailand, Ukrania, Mesir dan Turki juga membuat investor ketakutan.
Kekecewaan juga datang dari Jepang yang secara tak terduga mencatatkan pembengkakan defisit perdagangan di bulan Desember akibat lemahnya nilai tukar JPY dan tingginya biaya impor BBM.
Ekspor tumbuh 15.3% (Y/Y) sementara impor tumbuh 24.7% (Y/Y). Defisit perdagangan melebar menjadi ¥1.302 triliun dari ¥1.256 triliun.
Di bawah tekanan jual yang semakin membesar, IHSG terjun bebas 114.6 poin (-2.58%) ke level 4322.8 dengan Market Breadth yang sanagt negatif karena jumlah saham turun mengalahkan jumlah saham naik dengan rasio 5 banding 1. Indeks saham Blue Chip LQ-45 tenggelam 24.6 poin (-3.30%) ke level 722.4. Investor asing menarik IDR973.5 miliar keluar dari pasar saham domestik.
Indeks saham di Eropa melanjutkan pelemahan setelah data penjualan rumah Askeluar lebih buruk dari perkiraan dan seiring berlanjutnya ketidakpastian atas pertumbuhan di emerging markets sehingga memicu arus keluar dari aset aset berisiko tinggi seperti saham.
Data Business Confidence jerman gagal mengangkat sentimen pasar. Data Ifo Business Climate Index bulan Januari memperpanjang trend kenaikan menjadi 3 bulan beruntun ke level tertinggi dalam 2.5 tahun.
Indeks saham utama di Wall Street melemah karena investor mempertimbangkan rencana Federal Reserve mengurangi pembelian aset dan khawatir mengenai perekonomian China. Data penjualan rumah memperlihatkan penurunan yang lebih besar dari estimasi di bulan Desember, namun secara keseluruhan, tahun 2013 mencatatkan penjuaalan rumah tertinggi dalam 5 tahun terakhir.
IHSG masih berpotensi mengalami pelemahan pada perdagangan hari ini. Kondisi yang kurang kondusif di negara-negara berkembang membuat para investor cenderung untuk menghindari emerging market di awal tahun 2014 ini. Kondisi tersebut antara lain, memburuknya ekonomi China yang ditandai dengan penurunan pertumbuhan di kuartal IV tahun 2013 serta penurunan indeks manufaktur China di Januari 2014, krisis politik di Thailand, dan krisis mata uang Argentina. Bayang-bayang akan adanya pengurangan stimulus oleh The Fed turut memberikan sentimen negatif terhadap pasar global. Sedangkan dari dalam negeri, inflasi bulan Januari 2014 diprediksi akan naik karena faktor cuaca yang kurang baik sehingga menyebabkan harga pangan menanjak.
Secara teknikal IHSG break down membuka Gap dan mencoba menutup gap yang terbentuk sebelumnya dilevel 4270. IHSG diprediksikan masih bergerak melemah bila support MA50&MA25 di level 4300 tertembus. range pergerakan IHSG berada pada kisaran 4286 - 4360. Saham - saham yang dapat diperhatikan antara lain ASII, ASRI, BMRI, INDF, SGRO.
0 comments:
Post a Comment