Indeks saham di Asia tenggelam setelah pertemuan elit politik China tidak mengumumkan program reformasi yang jelas untuk memperbaiki model pertumbuhan yang sudah kehabisan tenaga dan seiring dengan tertekannya sentimen pasar oleh semakin merebaknya pembicaraan tentang penarikan stimulus oleh Federal Reserve.
Investor juga dikecewakan oleh tidak adanya detil yang konkrit dari reformasi kebijakan yang diumumkan pada Third Plenum Meeting Partaim Komunis China. Para pemimpin Partai Komunis China berjanji memberikan pasar peranan penting dalam ekonomi satu dekafe ke depan, namun tidak tersedia penjabaran lebih lanjut.
Para pemimpin China gagal mengumumkan perubahan dramatis seperti pembatasan dominasi BUMN, perpanjangan hak milik bagi petani atau relaksasi kebijakan satu anak (One Child Policy).
Menjelang rilis data Transaksi Berlajan Kuartal III, IHSG tersandung 61.1 poin (-1.38%) dan di tutup di level 4380.6 karena investor mengurangi exposure. Indeks saham Blue Chip LQ-45 anjlok 12 poin (-1.61%) ke level 731.2. Investor asing menarik IDR554.2 miliar keluar dari pasar saham domestik.
Indeks saham di Eropa turun karena investor khawatir bahwa Bank Of England (BOE) akan menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan setelah BOE dalam laporan inflasi kuartalannya terdengar lebih optimis terhadap kondisi pasar tenaga kerja.
Indeks Eropa juga mengekor pelemahan indeks di Asia dimana sentimen tertekan oleh kekecewaan terhadap hasil dari Musyawarah Nasional (Munas) 4 hari Partai Omunis China.
Dari sisi data ekonomi, Industrial Production zona Euro turun 0.5% di bulan September, menghapus sebagian dari kenaikan 1% di bulan Agustus dan di bawah ekspektasi pasar.
Indeks saham utama di Wall Street menguat, mengirim S&P 500 dan DJIA ke level penutupan tertinggi, dengan sejumlah pengamat menilai kenaikan ini di dorong oleh harapan bahwa calon pengganti Ben Bernanke, Janet Yellen dalam fit and proper testnya di depan Senat akan membela kebijakan Quantitaive Easing (QE).
IHSG masih berpeluang melemah dengan sentimen yang datang dari dalam negeri di antaranya meningkatnya defisit neraca pembayaran Indonesia menjadi USD2.65 miliar di triwulan ke tiga, dari USD2.48 miliar di triwulan ke dua. Kenaikkan defisit ini terjadi karena penurunan pada akun permodalan dan keuangan yang turun ke USD4.93 miliar dari USD8.43 miliar, dikarenakan penarikan modal asing yang didasari oleh ekspektasi dilakukannya tapering oleh the Fed pada akhir tahun ini atau awal tahun depan.
Sementara itu, defisit neraca perdagangan Indonesia turun ke level USD8.45 miliar, atau setara dengan minus 3.8% dari GDP, angka ini lebih baik dari triwulan sebelumnya yang setara dengan minus 4.4% dari GDP. Namun demikian, penurunan defisit neraca perdagangan belum berpengaruh terlalu besar terhadap defisit neraca pembayaran Indonesia. Dari luar negeri, sentimen negatif datang dari Jepang, di mana pertumbuhan ekonomi di negara tersebut melambat pada triwulan ke tiga pada level 1.9%, dari level 3.8% di triwulan sebelumnya.
Secara teknikal IHSG berpeluang melemah terbatas dengan indikator stochastic berada pada area oversold. Range support-resistance IHSG pada level 4259-4363. Rekomendasi speculative buy untuk INDF, ACES, AALI. Partial sell untuk ITMG.

0 comments:
Post a Comment