Indeks saham di Asia ditutup mixed karena investor fokus  pada pertemuan bank sentral global dan menantikan rilis data penting ekonomi AS, terutama Non-Farm Payrolls dan GDP Kuartal III.

Di akhir pertemuan kebijakannya, Reserve Bank of Australia (RBA) mempertahankan suku bunga acuan Cash Rate pada tingkat yang secara historis sangat rendah, 2.5%. Perhatian pasar sekarang tertuju pada pertemuan kebijakan moneter bank sentral Eropa (ECB) yang akan berlangsung hari Kamis.

ECB akan berada di bawah tekanan untuk menstimulasi ekonomi. Bank Of England (BOE) juga akan melakukan pertemuan pada hari Kamis dan di perkirakan mempertahankan kebijakan menyusul perbaikan sejumlah data ekonomi belakangan ini.

Satu lagi peristiwa besar bagi pasar adalah rilis data Non-Farm Payrolls AS yang diperkirakan akan memperlihatkan penambahan sekitar 125.000 kesempatan kerja di bulan Oktober di tengah ketidakpastian dampak dari pembekuan roda pemerintahan di AS. 

Pelemahan data, terutama pada Tingkat Pengangguran akan menghambat usaha penarikan (Tapering) stimulus oleh the Fed di bulan Desember. Juga akan menyedot perhatian pada hari Kamis adalah rilis data pertumbuhan ekonomi AS dimana GDO Kuartal III diprediksi tumbuh 1.9%, turun dari 2.5% di kuartal sebelumnya.

IHSG terpangkas 9.3 poin (-0.21%) dan di tutup di level 4423.3 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 turun hanya 1 poin (-0.14%) ke level 738.2. Investor asing menarik ID1465.2 miliar keluar dari pasar saham domestik.

Indeks saham di Eropa turun setelah Komisi Eropa memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi zona Euro dan memprediksi Tingkat Pengangguran zona Euro masih akan tetap berada di rekor tertinggi, sekitar 12.2% 2014 dan turun menjadi 11.8% di tahun 2015.

Indeks saham utama di Wall Street mayoritas ditutup turun karena sentimen positif dari data sektor Jasa (Services) AS yang keluar lebih baik dari ekspektasi dibayangi oleh sentimen negatif dari penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi di Eropa.

IHSG berpeluang bergerak mixed dengan sentimen yang kurang mendukung untuk terjadinya penguatan di antaranya dari data-data ekonomi Amerika Serikatr di mana sektor jasa secara mengejutkan mengakami peningkatan di bulan Oktober, yang menandakan sektor tersebut dapat mengatasi dampak negatif yang disebabkan oleh government shutdown.

Lebih jauh, spekulasi akan dilakukannya tapering di bulan Desember disertai proyeksi perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi akan membuat investor mengurangi proporsi kepemilikan sahamnya dan beralih ke aset beresiko lebih rendah.

Secara teknikal IHSG masih berada pada bearish momentum meskipun mulai terlihat sinyal pembalikan arah. Stochastic sudah mendekati area oversold sehingga meminimalisir potensi pelemahan. Range-support resistance IHSG pada 4363-4457 dengan rekomendasi trading buy untuk KLBF, BSDE, PTBA dan speculative buy untuk CTRA.

0 comments:

Post a Comment

 
Terasbursa.com © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top