Indeks saham di Asia bergerak mixed pada hari pertama di bulan November, mengikuti penurunan indeks saham di AS namun survei yang memperlihatkan perbaikan pada aktifitas manufaktur China turut mengangkat sentimen pasar.
Data resmi Purchasing Managers’ Index (PMI) China naik ke level 51.4 bulan lalu dari 51.1. Survei PMI China versi HSBC berada di level 50.9, naik dari level 50.2 di bulan September dan tidak berubah dari perhitungan awal (flash) yang di rilis minggu sebelumnya.
Aktifitas pabrikan di Taiwan, pemasok penting pada mata rantai industri teknologi global, memcatatkan pertumbuhan tercepat sejak Maret 2012.
Jepang melaporkan aktifitas pabrik tumbuh tercepat dalam 3 tahun, terlihat dari data Markit/JMMA PMI yang naik ke level 54.2 sehungga menambah harapan ekonomi bahwa terbesar ketiga di dunia dan rumah dari merek seperti Toyota dan Sony sudah keluar dari 2 dekade stagnasi.
IHSG jatuh 78 poin (-1.73%) dan di tutup di level 4432.6 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 anjlok 15.5 poin (-2.06%) ke level 739.3. Secara mingguan, IHSG dan LQ-45 masing masing terpuruk 148.3 poin (-3.24%) dan 32.5 poin (-4.21%). Investor asing Jumat lalu menarik ID1540 miliar keluar dari pasar saham domestik, mendorong total Net Sell asing minggu lalu menjadi IDR 816 miliar.
Setelah naik 3 hari beruntun, indeks saham di Eropa melemah seiring dengan investor melakukan aksi ambil untung (profit taking), meskipun indeks FTSE100 di Inggris bertahan pada teritori positif pasca rilis data manufaktur yang tidak mengecewakan.
Indeks saham utama di Wall Street naik pasca rilis data manufaktur yang solid, mendorong indeks S&P 500 dan DJIA mencatatkan kenaikan selama 4 minggu beruntun.
Data ISM Manufacturing Index mendaki ke level 56.4, tertinggi sejak April 2011, dari level 56.2 di bulan September. Data manufaktur lain yang juga dirilis hari Jumat lalu adalah perhitungan akhir (final) dari Markit Manufacturing PMI yang naik ke level 51.8 di bulan Oktober dari perhitungan awal (flash) yang berada di 51.1.
0 comments:
Post a Comment