Mayoritas indeks saham di Asia melemah mengikuti pergerakan indeks saham utama di Wall Street akhir pekan lalu dan juga kekhawatiran baru mengenai sikap Federal Reserve sehingga mengalahkan optimisme dari data manufaktur China. 

Bursa saham di Hong Kong terpaksa ditutup akibat badai besar sementara psara saham Jepang tutup karena hari libur nasional.

Perhitungan awal survei HSBC Purchasing Managers’ Index (PMI) China naik ke level 51.2 di bulan September dari 50.1 di bulan Agustus, dengan 10 dari 11 sub-indeks membaik bulan ini. Permintaan ekspor baru lompat ke level 50.8, tertinggi dalam 10 bulan dan merupakan pertumbuhan pertama dalam 6 bulan.

IHSG turun tipis 21 poin (-0.46%) dan ditutup di level 4562.9 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 menciut 3.9 poin (-0.51%) ke level 770.

Indeks saham di Eropa turun karena investor mencerna data awal PMI zona Euro dan khawatir Kanselir Jerman Angela Merkel akan kesulitan membentuk Pemerintahan Koalisi setelah Pemilu hari Minggu kemarin. 

Perhitungan awal (flash) data Composite PMI zona Euro mncapai 52.1, tertinggi dalam 27 bulan dan mengalahkan ekspektasi 51.9. Data PMI Services bulan September di Perancis dan Jerman lebih baik dari ekspektasi, namun tidak demikian dengan data Manufacturing PMI yang justru berada di bawah ekspektasi dan turun dari level di bulan Agustus.

Politik Jerman juga menjadi perhatian investor setelah partai yang di pimpin Kanselir Angela Merkel menang telak dalam Pemilu,  namun gagal mendapat mayoritas kursi di Bundestag, majelis rendah parlemen. 

Indeks saham utama di Wall Street turun karena investor menyimak pernyataan dari sejumlah pejabat tinggi Federal Reserve dan mengkhawatirkan kebuntuan politik di Washington.

Presiden Fed Bank di Atlanta Dennis Lockhart mengatakan ekonomi AS sudah kehabisan tenaga sementara Presiden Fed Bank di New York William Dudley mengatakan kebijakan moneter yang akomodatif masih diperlukan. Presiden Fed Bank di Dallas Richard Fisher menegaskan dalam pertemuan FOMC minggu lalu dirinya menundukung pengurangan program pembelian aset.




IHSG berpeluang melemah dengan masih kuatnya tekanan jual dengan kemungkinan tapering yang dapat mulai dilaksanakan melalui rapat FOMC pada bulan depan.
Dari Amerika Serikat, Markit Manufacturing PMI di level 52.8 menunjukkan sektor manufaktur negara tersebut mengalami ekspansi di bawah ekspektasi analis di level 54, dan di bawah level Agustus 53.
Tekanan terhadap mata uang rupiah juga dapat menjadi katalis negatif bagi IHSG dikarenakan permintaan USD yang meningkat untuk kebutuhan bayar utang jatuh tempo korporasi serta pembayaran terhadap barang-barang import.
Secara teknikal IHSG masih berada pada bearish momentum berdasarkan indikator stochastic, dengan ADX menunjukkan sinyal downtrend. Stop-loss level ISHG pada level 4515 dengan target downside di level 4417. Range pergerakan IHSG diprediksi pada 4515-4612, dengan saham saham yang dapat diperhatikan antara lain KLBF dan SMGR, dan rekomendasi partial sell untuk SMRA dan ITMG.

0 comments:

Post a Comment

 
Terasbursa.com © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top