Indeks saham di India memimpin penurunan indeks saham di Asia setelah bank sentral India, the Reserve Bank of India (RBI) secara tak terduga menaikkan suku bunga acuan.
Perdagangan di Asia akhir pekan lalu berjalan cukup sepi karena adanya hari libur nasional. Pasar saham di Hong Kong, China, Taiwan, Korea Selatan dan Malaysia tutup.
RBI mengejutkan pasar dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 7.50%, memberi prioritas lebih tinggi pada menjinakan inflasi dari pada tunduk pada tekanan melicinkan roda pertumbuhan ekonomi dengan kemudahan kredit.
Karena the Fed sudah mengambil keputusan, investor akan mengalihkan perhatian ke Washinton dan pertikaian politik antara Gedung Putih dan Kongres mengenai batas maksimal utang AS (debt ceiling) yang harus di naikkan pada 1 Oktober untuk menghindari berhentinya fungsi Pemerintahan. Kegagalan menaikkan debt ceiling dapat mengarah pada gagal bayar (default) untuk pertama kali dalam sejarah AS.
IHSG tersandung 86.9 poin (-1.86%) dan ditutup di level 4583.8 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 turun 19.9 poin (-2.50%) ke level 773.9. Secara mingguan, IHSG dan LQ-45 masing masing maju 208.3 poin (4.76%) dan 37.2 poin (5.05%). Investor asing Jumat lalu menarik IDR75.9 miliar keluar dari pasar saham domestik, mengurangi total Net Buy asing minggu lalu menjadi IDR 1.12 triliun.
Indeks saham di Eropa melemah karena investor mengambil sikap wait and see menjelang Pemilu Jerman hari Minggu. Satu pertanyaan paling penting adalah apakah koalisi CDU/CSU/FDP yang di pimpin Angela Merkel akan terpilih kembali atau pihak konservatif CDU/CSU dipaksa untuk memperbesar koalisi dengan merangkul partai SPD yang berhaluan kiri tengah.
Indeks saham utama di Wall Street turun tajam akhir pekan lalu namun berhasil mencatatkan kenaikan mingguan ketiga secara beruntun karena investor beraksi atas ketidakpastian sinyal verbal yang di sampaikan oleh Federal Reserve.
Sentimen yang mewarnai IHSG hari ini di antaranya datang dari Amerika Serikat, di mana tingkat pengeluaran konsumen diperkirakan meningkat 0.3% di bulan Agustus, yang menandakan peningkatan 4 bulan berturut-turut.
Ketidakpastian kapan dilaksanakannya tapering oleh the Fed serta kemungkinan berhentinya kegiatan pemerintah US pada 1 Oktober ini disertai kemungkinan default pada utang-utangnya juga berpotensi memberi pengaruh terhadap IHSG hari ini.
Dari dalam negeri, penguatan rupiah ke level Rp11.110 per USD berpotensi memberi efek psikologis yang positif bagi pelaku pasar.

0 comments:
Post a Comment