Indeks saham di Asia naik tajam setelah Federal Reservesecara tak terduga menahan diri dari mengurangi stimulus ekonomi masifnya. Bahkan berita buruk pembengkakan defisit perdagangan Jepang pun gagal menjegal rally.
Indeks saham di Indonesia, Thailand dan Filipina melonjak lebih dari 3%. Indeks di India dan Singapura juga mencatatkan kenaikan yang solid. Bursa saham di Korea Selatan dan China tutup dan mulai beroperasi lagi minggu depan.
The Fed mengumumkan tidak ada jadwal pasti berkaitan dengan penarikan stimulus moneter dan bahka memberi catatan khusus bahwa ekonomi AS belum mencapai tingkat pengangguran dan pertumbuhan yang memadai.
Kemungkinan suku bunga di AS akan tetap rendah untuk waktu yang lebih lama juga diperkuat oleh kabar dari Gedung Putih bahwa Janet Yellen adalah kandidat utama sebagai pengganti Ben Bernanke yang akan pensiun Januari tahun depan.
Semua perkembangan ini memberi rasa lega bagi pasar emerging markets yang telah menderita karena imbal hasil (yield) di negara maju menyedot keluar aliaran modal yang dibutuhkan.
IHSG terbang 207.5 poin (4.65%) dan ditutup di level 4670.7 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 lompat 41.6 poin (5,53%) ke level 793.8. Investor asing menarik IDR368.9 miliar keluar dari psara saham domestik.
Indeks saham di Eropa ditutup pada level tertimggi dalam 5 tahun karena investor mendapat kesmpatan untuk pertama kali bereaksi atas keputusan tak terduga the Fed untuk tidak melakukan perubahan pada program stimulus moneternya.
Mayoritas indeks saham utama di Wall Street turun dari level tertingginya yang datang dari untuk menunda penarikan stimulus.
Data Initial Jobless Claims kembali naik di atas 300,000 dan dapat terus bertambah pada minggu minggu mendatang karena ada 2 negara bagian (California dan Nevada) yang sedang memproses backlog yang berasal dari hari libur Labor Daydan mengupdate sistem komputer mereka.

0 comments:
Post a Comment