Kesulitan menentukan arah perdagangan, mayoritas indeks saham di Asia berakhir di level penutupan yang lebih rendah karena pelaku pasar enggan mengambil posisi dalam jumlah besar menjelang berakhirnya pertemuan kebijakan Federal Reserve Rabu malam.
Pasar saham berharap pengurangan dalam jumlah kecil karena program pembelian obligasi selama ini berhasil menahan suku bunga pada tingkat yang super rendah sehingga meminjam uang jadi lebih murah. Imbal hasil (yield) obligasi yang rendah dan membanjirnya dana murah mendorong investor mencari yield yang lebih tinggi dan menyalurkan dana murah itu ke dalam pasar modal negara berkembang (emerging markets), sehingga memicu rally di pasar saham emerging markets.
Sejumlah pasar tidak akan mempunyai kesempatan bereaksi atas keputusan the Fed hingga minggu depan karena beberapa hari libur yang menghadang. Indeks saham KOSPI tutup seminggu penuh sementara itu tidak ada perdagangan di Shanghai pada hari Kamis dan Jumat.
IHSG terpangkas 54.4 poin (-1.20%) dan ditutup di level 4463.3 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 mundur 13.4 poin (-1.76%) ke level 752.2. Investor asing menarik IDR368.9 miliar keluar dari pasar saham domestik.
Indeks saham di Eropa rebound, di pimpin oleh saham perbankan, seiring dengan investor yang menantikan apakah Federal Reserve akan mengumumkan pengurangan pada program bulanan pembelian aset.
Indeks saham utama di Wall Street menembus level tertinggi dan imbal hasil (yield) obligasi Pemerintah AS (US Treasury) bertenor 10 tahun turun tajam setelah Federal Reserve tidak mengurangi program pembelian aset.
Dalam konferensi pers setelah pertemuan FOMC, Ben Bernanke mengatakan pihaknya tidak mempunyai jadwal tetap (fixed) dalam mengurangi program pembelian obligasi dan setiap langkah yang di ambil tergantung pada data ekonomi.
Harga emas melonjak, nilai tukar USD turun tajam sementara DJIA dan S&P 500 menembus level tertinggi sebelumnya yang tercipta 2 Agustus lalu.

0 comments:
Post a Comment